Senin, 13 Februari 2012

SEHARIAN JASAD SI BUNGSU DIGENDONG KE MANA-MANA

Berita ini adalah kisah nyata yang terjadi sekitar tahun 2007 dibawah rezim SBY periode pertama dan sampai saat ini kasus kasus rakyat miskin seperti ini tidak pernah berhenti selalu ada dimana mana. Bagi yang tersiar oleh media mereka beruntung karena banyak orang yang akan peduli termasuk pemerintah yang seharausnya tahu lebih dahulu sebelum seluruh rakyat tahu, dan bagi yang tidak tersiar atau terpublis media mereka harus berjuan sendiri dan sekuat tenaga untuk menyelesaikannya sendiri.

Negara Auto pilot mungkin benar da layak diberikan untuk pemerintah indonesia dari dulu sampai dengan sekrang karena kenyataan nya memang sperti ini rakyat dipaksa untuk bertahan hidup ditengah keganasan kapital menghisap darap si miskin.

Lakon Duka Pemulung di Belantara Jakarta
SEHARIAN JASAD SI BUNGSU DIGENDONG KE MANA-MANA

Sungguh malang nasib tunawisma yang jadi pemulung ini. Ketika si bungsu yang berusia tiga tahun meninggal, bapak dua anak ini kebingungan menguburkan jasadnya. Ketiadaan biaya membuatnya harus menggendong mayat anaknya mencari tempat pemakaman.

Pekan silam menjadi hari yang paling buruk dalam perjalanan hidup Supriono (42), pemulung asal Solok, Sumatera Barat yang hidup menggelandang di Jakarta sejak 1999. Si bungsu dari dua bersaudara, Khairunisa (3) mendadak jatuh sakit. "Ia selalu memuntahkan makanannya dan mengeluh pusing," kata Supriono.

Supriono sempat membawa Khairunisa, sapaan anaknya, berobat ke Puskesmas Setia Budi, Jakarta Selatan. "Dokter mengatakan Khairunisa mengalami muntaber dan diberi obat berupa sirup dan tablet. Saya bayar Rp 4.000."

Usai ke Puskesmas, Supriono "pulang" ke tempat ia biasa istirahat di bawah jembatan rel kereta api, kawasan Cikini. Untuk menahan dingin malam, Supriono membaringkan si kecil Khairunisa di gerobak, tempat ia biasa menaruh hasil memulung. Di sanalah Supriono mencoba merawat anaknya.

"Obat dokter sudah saya kasihkan. Namun, sampai obatnya habis, sakitnya tidak sembuh juga. Saya kasih makan nasi dimuntahkan. Lalu, saya kasih bubur ayam juga dimuntahkan," kata Supriyono dengan mata menerawang.

Tidak mau perut anaknya kosong, Supriono menggantinya dengan biskuit yang dicelupkan air. Maksudnya agar lebih lunak dan mudah dicerna. "Namun, belum habis dua potong, Khairunisa kembali muntah. Hingga Minggu malam, kondisi Khairunisa semakin lemah, namun dia bisa tidur."

Saat azan Subuh, Senin (6/6) lanjut Supriono, anaknya bangun dan minta minum. "Saya perhatikan fisiknya semakin lemah saja, sehingga saya memilih tidak memulung hari itu. Saya putuskan untuk menjaga dia. Sekitar jam 07.00, saya perhatikan sorot matanya semakin suram dan mukanya semakin pucat."

Supriono semakin panik dan mencoba membangunkan buah hatinya itu. Namun, Khairunisa terbaring tenang, tak ada reaksi apa-apa. Supriono pun paham, anaknya sudah menghadap Yang Kuasa. Ia hanya bisa menangis menatap jasad anaknya di gerobak itu. Di tengah duka yang merajam, ia tidak tahu di mana jasad anaknya dimakamkan. Ia sama sekali tidak punya sanak saudara di Jakarta.

"Saat itu situasi di Cikini sudah mulai ramai, tetapi tidak seorang pun saya kenal untuk dimintai tolong. Lalu, saya teringat teman saya Dasmin yang tinggal di Kampung Kramat, Bogor, Jawa Barat. Saya berniat minta tolong agar jenazah Khairunisa dimakamkan di sana. Saya yakin dia mau menolong."

TERTAHAN DI KANTOR POLISI
Sungguh tragis, Supriono membawa jasad anaknya di gerobak itu menuju Stasiun Tebet. Kakak Khairunisa, Muriski Saleh (7) dengan langkah kecil mengikuti dari belakang. Sambil menunggu kereta datang, Supriono menutupi wajah Khairunisa dengan kaus, sedangkan kaki yang sudah mulai kaku itu dibiarkan saja terbuka.

Begitu kereta datang, Supriono menggendong jenazah Khairunisa dan bermaksud naik ke dalam gerbong. Tiba-tiba seorang pedagang teh botol mencegat Supriono. "Pak, anaknya sudah meninggal, ya," ujar Supriono menirukan pedagang teh botol. "Saya membenarkan dan mau saya bawa ke Bogor. Di antara orang yang mengerumuni saya, ada yang minta agar saya ke kantor polisi. Saya setuju saja. Kebetulan letak kantor polisi tidak jauh dari Stasiun Tebet."

Sementara Supriono menunggu pemeriksaan di Mapolsek Tebet, jenazah Khairunisa dititipkan di Puskesmas Tebet yang bangunannya bersebelahan dengan Polsek Tebet. "Saya tertahan di sana selama 6 jam hanya untuk menunggu datangnya petugas reserse yang melakukan pemeriksaan. Saya jengkel karena harus buru-buru menguburkan je nazah Khairunisa."

Supriono semakin tidak sabar karena petugas mengatakan, jenazah Khairunisa harus dibawa ke RSCM . Polisi juga sudah memesan mobil jenazah yang akan membawa jasad Khairunisa menuju RSCM. "Sore hari datang mobil ambulans. Sampai di RSCM, saya masih harus menunggu. Lalu, petugas minta agar jenazah Khairunisa diotopsi. Saya keberatan karena kematian anak saya sudah jelas karena sakit muntaber," papar Supriono.

Oleh petugas, Supriono diminta menandatangani surat penolakan otopsi. "Surat itu langsung saya tandatangani. Petugas kamar jenazah menanyakan, apakah saya membawa pulang Khairunisa dengan mobil ambulans atau membawa sendiri. Saya mengatakan enggak punya uang, makanya akan saya bawa sendiri."

Keluar dari RSCM, matahari sudah hampir tenggelam. Kembali dengan mata basah Supriono kebingungan mau dibawa ke mana anak bungsunya. "Saya pikir kalau ke Bogor sudah terlalu sore. Lalu, saya ingat Ibu Sri, pemilik kos di Jl. Manggarai Utara VI. Dulu tahun 2003, saya pernah tinggal di sana."

 
DUA MALAM DI TERMINAL
Di saku kumal Supriono tersisa uang hanya Rp 6 ribu. Ia pun menumpang bajaj dengan ongkos
Rp 5 ribu. "Beruntung Bu Sri ada di rumah. Seandainya beliau tidak ada, saya tidak tahu harus ke mana lagi. Saya cerita pada Bu Sri, Khairunisa yang saya gendong sebenarnya sudah meninggal. Saya minta tolong untuk dikuburkan," cerita Supriono.

Sri memanggil tetangga. Solidaritas warga membuat Supriono terharu. Mereka gotong royong untuk memandikan, memberi kain kafan, lalu menguburkan jenazah keesokan harinya di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Biaya pemakaman sebesar Rp 600 ribu ditanggung warga. "Saya hanya bisa berterima kasih kepada warga," katanya yang sementara waktu istirahat di rumah Sri.

Kisah miris Supriono ini kebetulan ditulis oleh wartawan. Tulisan itu langsung mendapat tanggapan dari warga. Supriono menerima banyak simpati dari warga masyarakat. Tidak sedikit pula yang mengirimkan uang dan menawarkan pekerjaan kepadanya. "Sungguh saya berterima kasih. Rencananya, uang dari para penolong akan saya pakai buat modal jualan mi ayam seperti yang saya lakukan di Solok."

Supriono mengisahkan, meski lahir di Solok, ia sebenarnya berdarah Jawa. Kakeknya yang berasal dari Muntilan, Jawa Tengah, transmigrasi ke Sumatera Barat, tepatnya di Desa Bunung Talang, Solok. Ia menikah dengan Suriem tahun 1996. "Di kampung saya jualan mi ayam, tapi hasilnya pas-pasan. Makanya saya ingin memperbaiki nasib dengan merantau ke Jakarta."

Tahun 1999, Supriono memboyong istri dan Muriski yang masih bayi, untuk mengadu nasib di Ibu Kota. "Saya ingin bekerja apa saja, pokoknya halal. Berbekal uang Rp 100 ribu kami berangkat. Untuk naik bus butuh biaya Rp 80 ribu. Jadi, pertama kali datang ke Jakarta, saya hanya pegang uang Rp 20 ribu," tambahnya.

Sebenarnya, Supriono tidak punya tujuan yang jelas karena tidak punya famili atau kerabat di Jakarta. Mereka pun sempat bertahan selama dua malam di terminal bus Rawamangun. Tak menemukan jalan untuk bekerja yang lebih baik, akhirnya ia bergabung dengan para gelandangan. "Saat itu biasanya kami tidur di Jalan Balap Sepeda, Rawamangun."

BELI GEROBAK BEKAS
Mulailah Supriono dan istrinya menjadi pemulung. Berbekal karung di tangan, ia menyusuri jalan di kawasan Pulogadung, Pulomas, hingga Jatinegara. "Persaingan di antara pemulung cukup ketat. Makanya saya dan istri harus bangun pagi agar memperoleh hasil memulung yang lebih banyak. Kalau tidak begitu, sudah keduluan orang dan saya tidak dapat bagian," ujarnya.

Hampir setahun bekerja, Supriono mampu membeli sebuah gerobak bekas seharga Rp 60.000, untuk menunjang pekerjaannya. Dengan gerobak, Supriono mulai merambah wilayah Salemba, Menteng, Tebet, Pramuka, hingga Senen. Ia menjual hasil memulung di kawasan Rawamangun. Namun, sejak tahun 2002, ia menemukan lapak pembeli hasil memulung dengan harga lebih tinggi di Manggarai.

"Harga jual kardus di Manggarai Rp 600 per kilo, sedangkan di tempat lain Rp 400 ­ Rp 500. Plastik bisa dihargai Rp 4.000 per kilo, padahal di tempat lain antara Rp1.200 ­ 1.500. Saya juga pindah tempat dan tinggal di perkampungan kaum pemulung di kawasan Reang di Manggarai. Di sana kami mengontrak rumah kardus. Harga sewa Rp 50 ribu per bulan,"
jelas Supriono.

Di tempat ini pula Supriono mendapat momongan baru yang diberi nama Khairunisa. Setelah anak kedua lahir, Supriono merasakan beban hidupnya semakin berat. Ia memutuskan keluar dari kawasan Reang dan kembali menggelandang dengan pangkalan tetap di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

"Hidup seperti ini tidak pernah tenang karena sewaktu-waktu bisa digaruk petugas 
trantib. Makanya saya selalu mencari tempat yang aman untuk tidur di malam hari. Biasanya di samping rumah orang," tambahnya.

Tahun 2004, Supriono tinggal di rumah Sri dengan sewa kamar Rp 100 ribu per bulan. "Sebulan di sana rumah tangga kami berantakan. Istri saya memilih pulang ke Sumatera. Sampai sekarang, kami belum resmi cerai," papar Supriono yang merawat dua anaknya.
Sejak itu, tidak ada lagi yang menjaga kedua anaknya, sehingga Supriono selalu membawa kedua buah hatinya bekerja. Demi menghemat uang, ia juga tidak lagi tinggal di rumah Sri. Ia memilih pangkalan tetap di kawasan Cikini, hingga muntaber merenggut nyawa anaknya.

Supriono mengaku hasil memulung sebesar Rp 20.000­ Rp 25.000 per hari, hanya cukup untuk makan sehari-hari. "Meskipun penghasilan saya tidak menentu, kedua anak saya selalu makan teratur, tiga kali sehari. Hanya saja tidurnya memang tidak senyaman kalau di rumah."

Lantas apa harapan Supriono sekarang? "Sambil usaha, saya mau menyekolahkan Muriski. Saya, sih, ingin jual mi ayam seperti dulu. Satu lagi keinginan saya, pemerintah memberikan tempat khusus untuk menampung para tunawisma. Masih banyak warga yang belum punya ru-mah. Mau berobat pun enggak punya uang. Kondisi ini bukan maunya kita, kan," tambahnya.

DITOLONG WARGA
Sama sekali Sri Suwarni (40) tidak pernah menduga, Supriono datang ke rumahnya sambil menggendong anaknya. "Ketika dia datang mau minta tolong, saya siap-siap mau belanja ke pasar. Semula saya pikir, Supriono mau pinjam uang untuk ongkos ke Bogor. Saya serahkan Rp 50 ribu, tapi ditolak."

Namun, Supriono tetap minta tolong. "Dia cerita, anaknya sudah meninggal. Saya langsung lemas. Saya merasa terenyuh melihat nasibnya. Saya harus menolongnya. Jenazah dibaringkan di rumah, kemudian saya menemui Pak Kirman, Ketua RT 08 RW01. Malam itu juga, warga bergotong royong mengurus jenazah. Biayanya kami peroleh dari hasil urunan warga," ujar pedagang bakso keliling ini.

Sri berinisiatif mengadakan acara tahlilan sampai ketujuh harinya yang dihadiri oleh warga Manggarai Utara. Solidaritas warga, terbukti masih ada di Jakarta.


Sabtu, 11 Februari 2012

Pembatasan BBM subsidi ; Guru kencing berdiri, kami mengencingi Guru

Mungkin benar yang dikatakan pepatah tentang “Guru Kencing berdiri murid kencing berlari” artinya perbuatan yang dilakukan oleh guru akan ditiru oleh muridnya dan bahkan lebih parah dari perbuatan guru tersebut.

Pengalaman yang kutuliskan dibawah ini mungkin bisa menjadi bahan renungan para pejabat, yang bisanya menyuruh rakyat berbuat mematuhi aturan, tapi mereka sendiri tidak pernah melakukannya. bahkan malah memberi contoh yang berlawanan dengan aturan yang mereka buat, dampaknya milyaran dana public yang digunakan untuk memasang iklan di media baik cetak maupun elektronik menguap menjadi gelembung sabun.
__________

Lihat alat penghitung bahan bakar di motor ku yang mulai sekart, akupun bergegas masuk ke POM bensin yang tak jauh dari rumahku (Demang Lebar baun) tak kuhiraukan hujan deras telah membasahi sekujur tubuhku. "harusnya dengan kondisi ini aku mesti cepat cepat pulang, tapi ya sudahlah ketimbang besok pasti POM bensin ini bakal rame dan antri apalagi pagi aku pasti gak bakal sempat untuk mampir" gumam ku dalam hati.

12 ribu jawabku ketika di tanya oleh karyawan pom bensin tersebut tentang nominal bahan bakar yg akan di isi. Karyawan itupun langsung memencet tombol dimesin pompa dan segera mengeluarkan Bensin itu dari kran Pompa sambil berkata "kita Mulai Dari nol ya Pak" ujarnya.

saat sdg asyiknya menunggu pengisian bensin di motor ku slesai,tiba tiba d Pompa bensin sebelah, datang sebuah mobil sedan yang menurut sepengetahuan ku yg pernah melihat pameran mobil mewah, Mobil yang datang ini psatilah salah satu mobil yang ada dipameran itu, dan sudah barang tentu pemilik mobil ini orang kaya ungkap ku dalam hati.

tak bisa kudengar pembicaraan antara karyawan dan sopir mobil tersebut yang aku tahu si karyawn mengangukan kepala dan mulai membuka tutup bahan bakar bensin mobil tersebut, lalu menarik tuas selang bahan bakar yang pada krannya berwarna 'Kuning', dari mesin pompa kedalam tangki BBM mobil tersebut.

Udah selesai mas ungkap karyawan tersebut kepada ku, seirng dengan kuhentikannya mataku memandang mobil mewah yang sedang diisi dengan bahan bakar yang kran BBM nya berwarna kuning. akupun langsung bergegas menutup tangki bensin motorku dan setelahnya, langsung kunyalakan mesin sepeda motorku. Bismilah bacaku dalam hati

kutarik gas mtorku perlahan shg jalan motorpun seadanya, dan betapa terbelalaknya mataku ketika baru saja motorku berjalan. tiba2 mobil mewah yang tadi mengisi BBm dari pipa kran warna kuning itupun berjalan dan meninggalkan Pom bensin, hal yang sangat mengagetkan ku kembali adalah PLAT NOPOL mobil tersebut bertulis RI 24

Melihat kejadian tersebut akupun langsung teringat iklan layanan masyarakat yang ada di sebuah Televisi yang mengatakan seperti ini.
" Bensin Bersubsidi adlah untuk masyarakat miskin, bkn untuk orng kaya".



Jumat, 28 Oktober 2011

Hujan Di Sumsel, Datang di Jemput, Sudah Datang Di Tendang

 Masih ingat kejadian musim asap yang menyelimuti Sumsel pada saat kemarau beberapa minggu kemarin, dampak dari Pembakaran Hutan dan lahan oleh perusahaan HTI dan Sawit? Untuk menginggatnya kalian dapat baca disini.

Musim Asap telah membuat pemerintah Sumatera selatan bagai cacing kepanasan karena jika ini terus berlangsung,SEA GAMES yang Cuma berlangsung 10 hari itu, akan terganggu. Untuk itu diputuskan agar di buatlah hujan buatan yang dananya menggunakan uang Rakyat sebesar 10 Milyar. Sedangkan perusahaan pembakar tidak sedikitpun tersentuh oleh Hukum. *hanyaadadiindonesia

Kini Asap tak lagi menyelimuti Sumsel, hujan yang terjadi secara alami (not Buatan) di Bumi Sriwijaya telah membawanya pergi ke ujung sumatera. Yang tersisa hanya tinggal Penyakit ISPA yang diderita oleh 17.000 orang, di dominasi oleh masyarakat kelas menengah kebawa, tanpa sedikitpun tanggung jawab pemerintah dan perusahaan pencipta musim asap tersebut untuk memulihkan kesehatan mereka.

Datangnya hujan yang pada beberapa Minggu lalu sangat diharapkan sampai dengan harus di “jemput” secara paksa. Sekarang telah dianggap petaka bagi Propinsi Sumsel Khususnya Kota Palembang yang pada tanggal 11 Nopember nanti akan menjadi tuan rumah Sea Games.

Wajar jika Pemerintah menganggap kedatangan musim hujan merupakan sebuah petaka, apalagi dengan kondisi menjelang SEA GAMES, karena menurut Data yang di rilis oleh WALHI Sumsel, Propinsi sumatera selatan  merupakan daerah yang selalu mencatatkan dirinya sebagai salah satu Propinsi di Indonesia yang menjadi langganan Banjir.

Selama dua tahun terakhir 2009 – 2010 bencana ekologi banjir di sumsel mengalami peningkatan, di tahun 2009 bencana banjir hanya terjadi 48 kali sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 102 kali.

Banjir yang terjadi disebabkan oleh kerusakan Lingkungan di wilayah ULU (DAS MUSI) dari total luas 6,7 juta Hektar yang kini kondisinya masih baik, hanya sekitar 800.000 Ha. Sisanya, telah berubah menjadi wilayah Industri Pertambangan, Perkebunan Kelapa sawit, Hutan tanaman Industri dan Ilegal Logging.

Bencana banjir inipun diperparah oleh kerusakan lingkungan di wilayah Ilir khususnya di Palembang. Menjelang Sea Games banyak terjadi peralihan fungsi kawasan seperti RTH dan rawa rawa yang selama ini berfungsi sebagai daerah tangkapan Air, telah berubah (dirusak) fungsi Menjadi gedung gedung tinggi Seperti Hotel, Café, Mall dan venues Olah raga. Khusus dalam hal perusakan rawa, hal yang paling besar terjadi saat ini adalah di timbunnya Puluhan Hektar rawa di jakabaring menjadi Venues Venues Sea Games artinya ketika hujan menguyur Palembang khususnya di jakabaring (komplek SEA GAMES)air yang turun akan merebut wilayahnya kembali ( banjir) .

Ketakutan Pemerintah akan datangnya Hujan dan banjir saat SEA GAMES, membuat Pemerintah Sumatera Selatan gelap mata dan tidak mensyukuri berkah yang di berikan tuhan didalam setiap hujan yang turun, seperti yang Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf: 9).

Sehingga Pada dua hari yang lalu (26/10) Gubernur sumsel, Alex Noerdin menginstruksikan kepada pihak Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPPD) Sumsel untuk meminta Pihak Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang kemarin bertugas mendatangkan Hujan di Sumsel. sekarang diminta untuk mengusir HUJAN, harapannya agar  penyelenggaraan SEA GAMES nanti dapat berjalan dengan sukses tanpa halangan dan permasalahan.

Tindakan mengusir hujan karena takut Banjir menyerang saat SEA GAMES berlangsung, adalah tindakan yang tidak akan menyelesaikan akar dari persoalan karena sesungguhnya Hujan adalah berkah sedangkan banjir adalah sebuah dampak dari rusaknya Lingkungan Hidup yang sebenarnya disebabkan oleh kebijakan pemerintah sumsel sendiri yang tidak pernah pro terhadap Lingkungan Hidup. Hal ini dapat disamakan dengan pepatah “ Buruk Rupa Cermin di Belah”.

Rabu, 26 Oktober 2011

16 Hari Menjelang SEA Games, Kami (Tidak) Bangga

16 Hari menjelang event olahraga terbesar ASEAN dibuka, apa yang terjadi di kota ini, Kota dengan penduduk yang mencapai 1,6 juta jiwa yang di belah oleh sebuah sungai terpanjang di Pulau Sumatera yaitu Sungai Musi.
1319605064983628421 Pagi ini seperti biasa tepat pukul 8.30 pagi, ku tinggalkan rumah untuk berangkat menuju tempat aku biasa beraktifitas sehari hari yaitu sebuah lembaga non profit yang pada 15 oktober lalu tepat berusia 31 Tahun. Jarak rumahku dengan tempat ku bekerja sebenarnya tidak terlalu jauh Kurang lebih 5 Km. Tapi sejak hampir 2 tahun terakhir ini, tepatnya menjelang kota ini menjadi tuan Rumah SEA GAMES jarak yang dekat itu pun terasa jauh, dijauhkan oleh kemacetan yang selalu muncul menghiasi jalan jalan protokol yang ada di dalam kota ini.
Mungkin bagi orang yang biasa tinggal di pulau jawa khususnya Jakarta, hal hal seperti kemacetan ini sudah biasa mereka hadapi, dan bisa jadi mereka enjoy aja sambil berkata ”so what gitu loh”. Tapi bagi kami ini hal yang sangat membosankan. Dan bisa jadi jika ini terus terjadi maka banyak ”wong kito” yang menghabiskan masa tuanya di jalanan.. Oh tidak, Oh yes , Oh No .. teriak ku dalam hati ketika membayangkan masa tua ku nanti.
Lamunan jalanan ku yang amburadul itupun terhenti, ketika kulihat alat pengukur bahan bakar yang ada di Sepeda Motor ku, jarak antara jarum penunjuk dan garis merah hanya setebal lidi korek api. Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik tali gas motorku sekencang mungkin… Brum .. brum tos… crot… sepeda motorku pun berlalu dari lorong yang satu ke lorong yang lainnya . Tapi apa daya sekencang apa pun kutarik tali gas motorku, kecepatannya masih tidak dapat melebihi kecepatan motornya simoncelli dan sudah pasti juga aku tidak akan senasib dengan simoncelli (aku turut berduka atas kematiannya), yaitu tidak bisa lebih dari 60 Km/jam.
Sebentar lagi aku akan sampai di salah satu SPBU yang berada di persimpangan lampu merah yang di atasnya ada Fly Over satu satunya di Kota palembang. Dimana pemiliknya adalah orang nomor dua yang ada di Kota empek empek. Akan tetapi betapa terkejutnya aku, ternyata didepan ku berada saat ini, terdapat barisan panjang kendaraan bermotor baik roda 8,4,3 dan 2, mirip dengan gerbong kereta api milik PTBA yang setiap harinya hilir mudik menarik 40 gerbong batubara yang panjangnya lebih dari 1 Km, dari Kabupaten Muara Enim menuju Kota Palembang. Sedang antri untuk mendapatkan bahan bakar baik bensin maupun solar.
Oh Tidak… Teriak ku histeris (sambil tangan, kuletakan di Kepala) tapi hanya berani dalam hati, karena aku sadar jika jeritan ini kulakukan beneran, pasti seantaro palembang ini akan mendengarnya bagai harimau yang sedang mengaum menunjukan daerah kekuasaannya Aummmm…. Aummm… Guk guk.., heheh.
Nyanyian Ayu ting ting yg berjudul Alamat palsu pun segera ku dendangkan ”..kemana.. Kemana.. Kemana..” ya kemana lagi aku harus mencari bahan bakar Bensin untuk memberikan nafas kehidupan kepada satu satunya motor milik ku. karena aku yakin, jikapun aku harus pindah mencari SPBU lain, aku pasti akan menemui hal yang sama dengan SPBU ini atau bisa jadi POM bensinya tutup karena stock BBM mereka habis. Pikiran ku mulai menerawang membayangkan beberapa kejadian 2 hari lalu, seandainya kemarin aku jadi membeli sepeda pasti gak akan seperti ini, tapi apa mau dikata uang ku gak cukup untuk membeli sepeda yang harga termurahnya saja harus dibayar dengan ” Satu batang” uang ratusan ribu rupiah.. Oh nasib… susahnya hidup dan mencari uang di negeri yang setengah gagal dan dipimpin para Koruptor.
Mau tidak mau.. aku harus rela membuang waktu ku untuk masuk dalam barisan para pencari BBM ini. Singkat waktu 30 menit telah berlalu, akhirnya aku berada di posisi terdepan dalam barisan ini.. kutarik nafas panjang panjang sambil berkata ”Alhamdulillah yah..” akhirnya Tangki Motorku penuh. seperti biasa dengan kondisi tangki seperti ini 4 atau 5 hari kedepan baru aku mengulang mendatangi SPBU ini. Eitt … STOP !! aku tahu apa yang ada di benak kalian (pembaca), kalian pasti mau memuji betapa hematnya motorku. iYa kan ?. tapi aku mohon (sambil mendekapkan kedua tangan di depan dada dan diikuti dengan mimik wajah yang memelas) jangan membuat aku melayang tinggi dengan pujian kalian. Aku belum pantas untuk mendapat pujian dan sanjungan ini. Karena sebenarnya bukan mesin kendaraanku yang hemat tapi karena motor ini aku gunakan hanya untuk pergi dan pulang dari tempatku beraktifitas sehari hari.. selebihnya jika aku pergi ketempat lain aku selalu menumpang kendaraan umum atau meminjam kendaraan temanku yang lain dan tak lupa juga untuk mengajak si empunya kendaraan untuk pergi menemaniku. (mengoptimalkan dan mengefektifkan fungsi kendaraan yang bisa dinaiki oleh 2 orang adalah program Hemat energi paling Efektif).
————————————————————–
Sampai lah aku di tempatku kerja… diatas meja sudah terdapat 3 tumpuk surat kabar lokal maupun Nasional, dan mataku pun tertuju untuk membaca Headlines salah satu surat kabar Lokal yang merupakan member dari gramedia. Tertulis besar judul berita ” Pengusaha SPBU Ancam Tutup” rasa penasaran ku pun makin menjadi dan aku pun tak akan lama menahan rasa penasaran untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
TERNYATA, apa yang terjadi saudara saudara.. .?? terjadi kelangkaan BBM di Sumatera Selatan khususnya Kota palembang.
1319605343532277003 Wadaw .. ternyata inilah yang menyebabkan peristiwa yang aku alami tadi dan memaksa aku untuk mengaum di pagi hari bolong. ”Ternyata Antrian panjang kendaraan di SPBU dan menyebabkan kemacetan panjang di jalan sekitar SPBU tersebut akibat dari ini toh”.. kataku dalam hati.
Ku teruskan membaca berita koran ini dan inti berita yang aku dapat adalah BBM langka karena pasokan yang dikirim oleh Pertamina tidak dapat mencukupi kebutuhan BBM kendaraan milik masyarakat Sumatera selatan dan sekitarnya terkhusus BBM jenis Solar. Dan hal ini menurut pihak pertamina karena tidak ada koordinasi yang di lakukan oleh Gubernur Sumatera selatan kepada Pertamina untuk meminta penambahan kuota pasokan BBM di Sumsel menjelang SEA GAMES ini, selain itu juga menurut Pertamina jatah atau kuota BBM yang ditetapkan oleh pemerintah untuk Sumatera selatan sudah mulai menipis. (Dalam tulisan lain nantinya, aku akan tuliskan beberapa fakta penyebab Kelangkaan dan quota BBM ini cepat menipis padahal Sumsel negeri kaya Energi)
SEA GAMES lagi SEA GAMES lagi ah.. betapa banyak kerugian yang kami masyarakat Sumatera selatan alami baik social, ekonomi dan Budaya karena kegiatan yang hanya berlangsung sekitar 10 hari ini 11-21 nopember 2011. Omong Kosong apa yang dikatakan pemerintah Pusat maupun daerah Sumatera selatan atau kota Palembang jika SEA GAMES dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan Rakyat di Sumatera Selatan. Ini Buktinya ¿?
Hei tapi tunggu dulu, sebelum aku menuliskan beberapa Bukti tentang Kerugian dan tragedi tragedi yang kami, masyarakat Sumsel alami menjelang SEA GAMES ini mohon kiranya saat membaca nya nanti kalian dapat mengunakan seluruh kemampuan otak kanan, kiri, depan belakang kalian ya…ya ya..biar masuk akal bukan penjara, berikut beberapa catatan ku :
  1. Hilangnya Ruang Terbuka Hijau publik dan Lahan rawa yang mencapai ratusan Hektar karena dibangun dan dialih fungsi menjadi kawasan Private seperti Hotel, cafe, mall dan venues. Masalah ini sudah aku tuliskan disini 1319605539832215350

  2. Kelangkaan Air bersih yang dialami 17.000 KK lebih di Palembang karena air nya dialihkan untuk memenuhi kebutuhan venues SEA GAMES seperti Kolam renang, danau, dan wisma atlet dll,

  3. Byar Pet listrik yang satu harinya bisa mencapai 10 Kali, karena banyaknya daya yang digunakan untuk memasang serta menerangi Venues Venues SEA GAMES yang baru di buat maupun telah jadi. Hal ini merugikan industri rumah tangga dan masyarakat sumsel secara keseluruhan ditambah dengan tidak adanya Kompensasi yang diberikan oleh PLN atas pemadaman tersebut dan malah naasnya menurut keterangan masayarakat mereka harus membayar rekening lebih mahal dari biasanya karena kejutan kejutan yang dibuat oleh Byar pet tersebut membuat meteran pengukuran daya berjalan dengan Sangat cepatnya.

  4. Puluhan Kilometer Trotoar yang merupakan Hak hak Masyarakat Palembang khususnya Pejalan kaki dirampas. Di jadikan jalan milik kendaraan Bermotor karena pelebaran jalan yang dilakukan Pemerintah kota katanya untuk mengurangi kemacetan. Tapi kenyataannya kemacetan jalan semakin menjadi jadi karena memang menurut para ahli Transportasi dari negeri manapun diatas BUMI ini, serta yang sering di kemukakan oleh WALHI Sumsel bahwa Solusi untuk mengurangi kemacetan jalan bukanlah dengan melebarkan jalan tetapi membatasi kepemilikan kendaraan bermotor dan hal ini bermanfaat juga untuk menciptakan udara bersih di Kota Palembang. Dan pastinya menjaga masyarakat dari serangan penyakit yang diakibatkan oleh buruknya koalitas udara kota Palembang seperti yang terjadi dibulan lalu ada sekitar 7.000 jiwa penduduk Palembang terserang penyakit ISPA.

  5. Penggusuran rumah dan tempat pekerja non formal semakin sering terjadi terkhsus peristiwa yang terjadi kemarin, Puluhan rumah dan Lapak PKL yang berada di 8 Ulu dan di sepanjang jalan A Bastari Jakabaring di Gusur karena SEA GAMES. Kota ini tidak boleh tanpa kumuh dan kotor.

  6. Rencana Pembantaian terhadap ribuan anjing liar yang akan dilakukan pada hari Sabtu (29/10) besok, yang akan dilakukan oleh Pemerintah Sumsel melalui Dinas Peternakan, dengan alasan untuk mengamankan SEA GAMES agar para tamu yang (katanya) akan datang tidak ada yang di gigit anjing.  . Rencana ini mendapat tentangan keras dari banyak Pihak baik nasional maupun tingkat local salah satunya Walhi Sumsel yang menyatakan bahwa rencana pembantaian itu hanya akan menimbulkan masalah baru dan akan semakin meningkatkan populasi anjing anjing tersebut di kemudian hari. Dan seharusnya yang dilakukan pemerintah ádalah dengan melakukan penegakan aturan Undang-Undang No 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan kesehatan hewan. Bukan melakukan Tindakan Praktis dengan cara membantai karena kalo membantai kami masyarakatpun bisa. Dan kalopun mau bantai membantai saran aku “bantai” aja tuh mafia mirip anjing bukan anjing asli hehe

  7. Rencana Pembagian Kondom sebanyak 57.600 kondom secara gratis melalui 200 outlet selama berlangsungnya SEA Games XXVI. kepada Masyarakat atau Para Tamu Sea Games. Katanya agar dapat mencegah menyebarnya penyakit kelamin.hahaha …. Keliatan kali otak dan pikiran Pemerintah baik Pusat Propinsi dan Kota ini mesum dan kotor, dan malah aku berpikir bisa jadi ini berangkat dari pengalaman mereka (pejabat ) selama ini ketika berkunjung atau menjadi tamu di negara luar.
7 Hal (Kerugian dan Tragedi) diatas inilah yang sempat aku catat dalam beberapa waktu menjelang SEA GAMES ini, dan aku yakin bahwa masih banyak lagi yang lainnya yang tidak bisa aku temui atau terlupa aku rekam.. dan untuk itu Ana mohon maaf pada ente sekalian…hehe
Tet tet tet tot tot … suara yang keluar dari HP ku menyadarkan aku untuk berhenti berpikir, menulis cerita hari ini. Ini juga membuat aku mulai merasakan bahwa cacing dalam perutku berdendang, wajar saja karena ketika aku lihat jam di dinding ruang tamu jarumnya sudah menunjukan ke angka 5 Sore. dan sejak pagi sampai sore ini tidak ada segumpal makanan pun masuk kedalam perut.. untuk memberikan hak kepada perutku maka cerita ini aku cukupkan sampai disini saja. (titik) 

Tulisan ini aku Posting juga di kompasiana

Jumat, 23 September 2011

Media Massa Tak Memihak Massa

Sebuah Kasus Televisi Swasta di Venezuela


Tapi yang terpenting jangan diracuni.
Jangan mau diracuni oleh kebohongan mereka.
(Hugo Chavez)

The Revolution Will Not Be Televised (selanjutnya disingkat The Revolution) adalah sebuah saksi nyata bahwa stasiun televisi selalu terlibat dalam kepentingan-kepentingan tertentu. Televisi–sebagai media massa yang digambarkan dalam film ini–menggelitik kita untuk mempertanyakan kembali sejauh mana kata “massa” diwakilkan oleh media massa.

Berawal dari keinginan untuk mendokumentasikan kehidupan pribadi Hugo Chavez, proses produksi The Revolution bisa dibilang kebetulan. Ketika pembuat film ini berada di Karakas (ibu kota Venezuela) untuk mendokumentasikan Chavez, yang  disuguhkan malah peristiwa kudeta 11 April 2002. Peristiwa inilah yang akhirnya didokumentasikan. Realitas di lapangan dan pemberitaan televisi-televisi swasta Venezuela yang menyimpang dari realitaslah yang disuguhkan dalam film dokumenter ini.

Film dibuka dengan gambaran rakyat Venezuela yang begitu mendukung Hugo Chavez, dipadukan dengan beberapa cuplikan siaran televisi swasta Venezuela dan mancanegara, yang mengabarkan kegagalan Chavez dan betapa menderitanya rakyat Venezuela di bawah pemerintahannya. Sejak awal, The Revolution sudah menggambarkan sesuatu yang paradoks dan bertolak belakang.

Chavez adalah pemimpin Venezuela yang dipandang kontroversial. Ia menang pada pemilu demokratis pada 1998 (didukung oleh 50% lebih suara). Mayoritas pendukungnya adalah rakyat miskin yang juga merupakan mayoritas penduduk Venezuela. Setelah menang, ia mengubah banyak kebijakan di negeri itu. Salah satunya adalah pendistribusian secara merata hasil minyak negara untuk seluruh lapisan masyarakat. Hal ini berbeda dengan sebelumnya,  yang mana hasil minyak hanya dikuasai dan dinikmati oleh segelintir orang saja.

The Revolution dengan detil merekam keseharian masyarakat kecil Venezuela: rumah-rumah mereka, kegiatan, juga kesaksian mereka tentang pemerintahan Chavez. Tapi, bukan ini cerita utama yang hendak disampaikan The Revolution. Pun sebagaimana perlakuan Chavez terhadap rakyat miskin Venezuela yang disandingkan dengan kebencian kelas menengah-atas Venezuela terhadap kebijakan Chavez juga hanya sekadar latar belakang. Namun pertentangan ini semakin nyata terasa oleh pertarungan di televisi.

Saat itu ada lima stasiun televisi swasta yang dikuasai oleh beberapa kubu ekonomi terkuat di Venezuela. Sedangkan televisi publik hanya satu. Dan melalui satu-satunya stasiun televisi inilah, Chavez mengadakan perang media dengan televisi-televisi swasta. Alih-alih mengabarkan kunjungan-kunjungan Chavez dan betapa gegap gempitanya sambutan rakyat atasnya—sebagaimana yang mengisi narasi awal The Revolution—televisi-televisi swasta justru mengangkat isu penyimpangan seksual Chavez, kedekatannya dengan Kuba, dan juga dukungannya atas terorisme. Sebaliknya, pada televisi publik, Channel 8, sikap Chavez adalah menentang terorisme, tetapi tidak merestui tindakan pembasmian terorisme yang sampai memakan korban anak-anak dan masyarakat sipil yang tak bersalah di Afghanistan.

Pemerintahan Chavez mengerti betul fungsi televisi sebagai sarana masyarakat mengakses informasi tentang negara. Setiap minggu, ada acara televisi bertajuk Aló Presidente. Tujuannya agar masyarakat bisa langsung berbicara dengan Chavez melalui telepon yang disiarkan secara langsung. Dalam salah satu episode yang direkam The Revolution, misalnya, Chavez berbicara dan mencatat secara langsung keluhan Lucretia, salah seorang penelepon,  tentang permasalahan tanahnya. Selain itu, Chavez pun menekankan pada bawahannya untuk selalu menyiarkan pekerjaan-pekerjaan pemerintah melalui radio maupun televisi-televisi lokal, untuk melawan pemberitaan televisi swasta yang selalu menyudutkan pemerintah.

Perang di media semakin menguat di awal 2002. Pihak oposisi yang didukung oleh kekuatan-kekuatan ekonomi semakin sengit melancarkan serangan terhadap Chavez melalui siaran televisi-televisi swasta. Pada 10 April, mereka menyiarkan peringatan dari salah satu jenderal oposisi Chavez atas kemungkinan adanya kudeta. Mereka menyerukan demonstrasi besar-besaran untuk menentang Chavez. Para pemirsa televisi swasta yang kebanyakan dari pihak kelas menengah dan atas kota (kebanyakan dari mereka, berdasarkan keterangan The Revolution, adalah pihak yang mendapatkan keuntungan dari hasil minyak negara pada pemerintahan sebelumnya) yang mendukung oposisi pun menyambut baik. Pada 11 April, demonstrasi itu terjadi.

Di istana, ribuan pendukung Chavez berkumpul untuk menyatakan solidaritasnya pada pemerintah. Demonstran oposisi dibelokkan rute demonstrasinya dari yang semula ke perusahaan minyak negara menuju istana presiden. Bentrokan antara pendukung pemerintah dan oposisi hampir terjadi. Salah seorang pendukung Chavez menyatakan bahwa media berada di balik perang kotor ini.

Pukul dua siang kedua kelompok sudah berhadap-hadapan tapi masih bisa dihalangi tentara. The Revolution mengisahkan, ketika mereka kembali ke kerumunan pendukung Chavez, dimulailah tembakan dari sniper terhadap para pendukung Chavez. Pada titik ini, The Revolution mulai masuk pada sebuah fakta yang sungguh mengenaskan.

Sebanyak 25% masyarakat di Venezuela memiliki pistol. Para pendukung Chavez mulai balas menembak ke arah datangnya tembakan. Kesaksian dan analisis Andres Izarra, kepala pemberitaan sebuah televisi swasta Venezuela, patut disimak baik-baik. Menurutnya, sebuah stasiun televisi swasta menempatkan kameranya di belakang istana dan mengambil gambar orang-orang yang menembak dari atas jembatan. Pemberitaan itu lantas menuduh pendukung Chavez yang dengan brutal menembaki para oposisi yang berdemonstrasi dengan damai. Padahal, menurut Izarra, sudah sangat jelas bahwa kelompok pendukung Chavez tengah tiarap, namun situasi tersebut tak pernah ditayangkan oleh televisi swasta. Gambar itu dimanipulasi sedemikian rupa sehingga terlihat seakan Chavez dan pendukungnyalah yang bertanggungjawab atas penembakan-penembakan yang terjadi. Kenyataannya, mereka ditembaki terlebih dahulu dan membalas dalam rangka perlindungan diri. Kesalahan rekayasa ini sedemikian fatal, karena, jalan di bawah jembatan yang dimaksud, pada hari itu, tak pernah dilewati oleh demonstran oposisi.

Dalam keadaan rusuh, televisi swasta terus menayangkan pemberitaan-pemberitaannya dan seruan agar Chavez mundur. Informasi makin kacau balau ketika saluran Channel 8 dikuasai kaum oposisi. Pada pukul 21.20, para menteri mencoba bersiaran langsung dari istana melalui televisi publik tersebut. Pukul 21.30 gelombangnya diputus. Penasehat politik dalam pemerintahan Chavez menyatakan bahwa kaum oposisi terlalu kuat dan pemerintahan Chavez tak punya kesempatan untuk melawan media. Chavez lantas menyerahkan diri pada dini hari (12 April) agar istana tak dibom.

Pagi harinya, Venezuela sudah punya presiden baru dan sejak itu sensor diterapkan. Tak boleh ada pemberitaan tentang para pendukung Chavez. Itulah yang menyebabkan Andres Izarra mengundurkan diri dari posisinya di salah satu televisi swasta karena tak sesuai dengan prinsip jurnalistik yang dipegangnya.

Memang pada akirnya kaum oposisi tidak mampu mempertahankan kudeta mereka dalam waktu yang lama. Chavez kembali ke istana pada 14 April dini hari. Rakyat pendukung Chavez beserta jajaran militer yang memihak rakyat berhasil mengembalikan keadaan. Itu juga berkat bantuan dari jaringan televisi internasional yang bersiaran melalui saluran televisi kabel di Venezuela. Chavez sendiri tidak lantas membredel televisi-televisi swasta. Hanya satu televisi swasta, RCTV, yang dicabut izin siarnya karena terbukti terlibat dalam kudeta (Ariane dalam Bonnie Triyana dan Max Lane [eds], 2008).

Namun demikian, pelajaran dari peristiwa di Kuba yang direkam dalam The Revolution setidaknya membuka mata kita dan mengingatkan kembali bahwa media massa, dalam kasus ini televisi, sungguh adalah senjata yang ampuh untuk mempengaruhi politik atau pun dimensi-dimensi penting lainnya dalam kehidupan. Ketika media massa memihak pada sebuah kepentingan saja, maka sangat mungkin kepentingan masyarakat banyak dikesampingkan oleh kepentingan yang bermain di baliknya. Dalam kasus Venezuela, di tengah kekuatan yang tak seberapa hebat dalam melawan televisi swasta, ucapan Chavez setelah ia kembali ke istana pada dini hari 14 April 2002, yang dikutip di awal tulisan ini, merupakan cara yang efektif untuk melawan media massa yang tak memihak pada massa: “Jangan mau diracuni oleh kebohongan mereka.”

Ditulis oleh ;
Berto Tukan– September 19, 2011
 
Sumber Tulisan :http://remotivi.or.id