Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL ISLAM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juli 2008

Dikotomi Sunni-Syi'ah Tidak Relevan Lagi

Oleh : jalaludin Rachmat


TANYA: Ada yang bilang bahwa Syi'ah di Indonesia itu sebenarnya bukan mazhab baru, tetapi sudah lama. Hanya saja mungkin ia tidak tersebar luas sebagaimana mazhab Sunni. Bagaimana Kang Jalal melihat perkembangan Syi'ah di negeri ini?

JAWAB: Ada beberapa teori tentang kedatangan Syi'ah di Indonesia. Teori pertama merujuk pada masa penyebaran Islam di Indonesia. Jadi, menurut teori ini, dahulu orang-orang Syi'ah yang dikejar-kejar oleh penguasa Abbasiyah lari dari Timur Tengah sebelah utara, yang sekarang mungkin daerah Irak, ke sebelah selatan --dibawah pimpinan seorang yang bernama Ahmad Muhajir-- sampai ke Yaman. Mereka menghentikan pelarian di puncak-puncak bukit yang terjal. Kisah ini dimuat dalam beberapa kitab Syi'ah. Alkisah, pemimpinnya, Ahmad Muhajir, waktu itu mematahkan pedangnya dan kemudian mengatakan, "Wahai saat ini kita ganti perjuangan kita dengan pena É"

Kemudian mereka semua secara lahir menganut mazhab Syafi'i. Mereka bertaqiyyah sebagai pengikut mazhab Syafi'i di daerah Yaman, Hadramaut. Sehingga di dalam kamus Munjid edisi lama, pada kata 'Hadramaut' ditulis: sukkanuha syi'iyyuna syafi'iyyuna; penduduknya orang-orang Syi'i yang bermazhab Syafi'i. Saya kira Munjid itu merekam mereka. Dari Hadramaut inilah menyebar para penyebar Islam yang pertama, khususnya kaum 'Alawiy, orang-orang keturunan Sayyid, atau yang mengklaim sebagai keturunan Sayyid. Mereka datang ke Indonesia dan menyebarkan Islam. Tetapi ketika mereka datang ke Indonesia, di luar, mereka Syafi'i, di dalam, mereka Syi'i.

Belakangan ada bukti-bukti lain yang memperkuat teori ini. Misalnya, pernyataan Abdurrahman Wahid bahwa NU secara kultural adalah Syi'ah. Hal itu karena tradisi Syafi'i di Indonesia --berbeda dengan tradisi Syafi'i di negeri-negeri lain-- sangat kental diwarnai tradisi-tradisi Syi'ah. Ada beberapa shalawat khas Syi'ah yang sampai sekarang masih dijalankan di pesantren-pesantren. Ada wirid-wirid tertentu yang jelas menyebutkan lima keturunan Ahlul Bait. Kemudian juga tradisi ziarah kubur, lalu membuat kubah pada kuburan. Itu semua tradisi Syi'ah. Tradisi itu lahir di sini dalam bentuk mazhab Syafi'i. Jadi di luarnya Syafi'i di dalamnya Syi'i.

Masih ada juga bukti-bukti ritus khas Syi'ah --bukan khas Syafi'i-- yang populer di Indonesia. Salah satunya ialah tahlilan hari ke satu atau keempatpuluh (setelah kematian seseorang) dan juga haul. Itu tradisi Syi'ah yang tidak dikenal pada mazhab Syafi'i di Mesir. Lalu, di kalangan NU setiap malam Jum'at sering dibacakan shalawat diba'. Pada shalawat itu disebutkan seluruh Imam Syi'ah yang dua belas. Dan itu mereka lakukan setiap malam Jum'at, seperti pembaruan bai'at, kepatuhan pada dua belas Imam.

Untuk memperkuat itu, ada juga kebiasaan orang-orang Indonesia yang menganut mazhab Syafi'i untuk menghormati --kadang-kadang secara berlebihan-- keturunan Nabi yang mereka artikan sebagai Ahlul Bait. Saya sebut secara berlebihan karena menurut orang-orang Syi'ah, Ahlul Bait itu hanya terbatas kepada dua belas Imam yang ma'shum. Jadi, tidak semua keturunan Nabi adalah termasuk Ahlul Bait. Mereka juga percaya bahwa semua Ahlul Bait itu pasti masuk surga, dan mereka tak berdosa. Kepercayaan itu merata, khususnya pada kalangan Muslim yang awam.

Kemudian di Surabaya ada seorang peneliti (kalau tidak salah namanya Agus Sunyoto) dari sebuah lembaga penyiaran Islam (nama lembaganya saya lupa; dipimpin oleh Dr. Saleh Jufri), yang pernah melakukan penelitian terhadap kuburan-kuburan di Jawa Timur. Ia menemukan bahwa kuburan-kuburan itu adalah kuburan-kuburan orang Syi'ah. Ia punya dugaan keras bahwa Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia itu Islam Syi'ah. Kemudian, Ali Hsymi juga pernah menulis buku tentang Syi'ah di Indonesia dan ia punya teori bahwa Isalm yang pertama datang ke Indonesia ini adalah Islam Syi'ah. Menurut Agus Sunyoto, sebagian besar dari wali yang sembilan itu adalah Syi'ah, kecuali satu (kalau tidak salah Sunan Kalijaga atau entah siapa, saya tidak ingat betul; itulah yang suni). Itu dari segi bukti-bukti sejarah.

Teori kedua, Islam yang datang ke Indonesia itu Islam Sunni. Tetapi kemudian Syi'ah masuk terutama melalui aliran-aliran tarekat. Soalnya, dalam tarekat, Syi'ah dan Sunni bertemu sudah sejak lama. Ambillah contoh tarekat Qadriyyah-Naqsabandiyyah. Silsilahnya bersambung kepada imam-imam Syi'ah. Sisilahnya begini: dari Allah, Malaikat Jibril, Rasulullah, Ali, Husain, Ali bin Husain, terus kepada Imam Syi'ah sampai Imam Ali Ridha. Dari situ barulah keluar kepada silsilah yang lain. Tetapi tujuh atau delapan yang awal itu adalah para imam Syi'ah.

Tampaknya, menurut teori kedua ini, Islam yang datang ke Indonesia ialah Islam Sunni. Tetapi, karena Islam yang pertama datang itu Islam yang bersifat mistikal, maka pengaruh-pengaruh Syi'ah masuk lewat Islam yang mistikal itu. Ritus-ritus yang disebutkan tadi tidak menunjukkan bahwa Syi'ahlah yang pertama datang ke Indonesia. Itu hanya sekedar menunjukkan adanya pengaruh Syi'ah yang masuk ke dalam pemikiran Ahlussunnah lewat Syafi'i. Ada juga yang punya teori Islam itu dulu pernah disebarkan ke Indonesia lewat orang-orang Persia. Ada yang menyebutkan mereka juga pernah tinggal di Gujarat, di India Barat yang kebanyakan adalah Syi'ah.

Teori ketiga, Syi'ah itu baru datang setelah peristiwa Revolusi Islam Iran (RII), dimulai antara lain dengan tulisan-tulisan Ali Syariati dan disusul dengan tulisan-tulisan pemikir Islam Iran lain. Sebetulnya, banyak orang yang terpengaruh Syi'ah hanya kerena peristiwa RII. Belakangan, kadang-kadang orang mendefinisikan Syi'ah sebagai siapa saja yang bersimpati terhadap RII. Misalnya, Mas Amien Rais, pernah menerima gelar Syi'ah juga. Bahkan sebuah buku kecil pernah ditulis tentang ciri ke-Syi'ah-an Amien Rais. Saya kira sebabnya sederhana saja: karena mas Amien Rais memang sering memuji RII. Boleh jadi ada juga orang yang menyebut mas Dawam Rahardjo itu Syi'ah, karena ia sangat apresiatif terhadap Iran, sampai seringkali memuji-muji ulama Iran.

TANYA: Sementara ini ada dugaan bahwa di antara empat mazhab fikih (Sunni), tampaknya yang paling dekat dengan Syi'ah adalah mazhab Syafi'i. Misalnya, Imam Syafi'i sendiri pernah mendapat tuduhan dari ulama-ulama lain bahwa dirinya itu Syi'ah. Bagaimana pendapat Kang Jalal?

JAWAB: Salah satu dugaan yang mungkin bisa kita pahami sebagai argumentasi untuk menolak Syi'ah yang berbaju Syafi'i ialah kenyataan bahwa Imam Syafi'i itu sangat simpatik terhadap Syi'ah. Banyak syairnya tentang mazhab Ahlul Bait. Dalam syair-syair itu tampak jelas simpati Imam Syafi'i kepada Sayyidina Ali. Misalnya, "Keluarga Rasulullah wasilahku", atau "Aku mengendarai perahu Ahlul Bait", atau ada dikatakan "Sekiranya mencintai keluarga Rasul itu Syi'ah, biarlah seluruh jin dan manusia tahu bahwa aku Syi'ah." Dan masih banyak lagi

Jadi argumentasinya bukan bahwa Islam yang datang ke Indonesia itu Syi'ah yang berbaju Syafi'i, tetapi memang mazhab Syafi'i. Sebab Imam Syafi'i memang sangat simpatik terhadap Syi'ah. Menurut riwayat, Imam Syafi'i itu pernah diseret dari Hijaz ke Syria dalam belenggu besi dan dihadapkan kepada Harun al Rasyid. Satu demi satu kawannya 'dipotong' dan hanya Imam Syafi'i yang selamat. Konon, Imam Syafi'i itu diseret karena simpatinya terhadap Syi'ah.

Sebagian malah menduga bahwa Imam Syafi'i sebetulnya bukan hanya simpati, tetapi juga termasuk orang yang berpaham Syi'ah. Jalaluddin al Suyuti, yang menulis tafsir Al Dur al Mantsur fi al Tafsir bi al Ma'tsur, juga dicurigai sebagai Syi'ah hanya karena banyak meriwayatkan tentang keutamaan keluarga Nabi. Hal seperti itu tidak baru pada Syafi'i. Banyak ahli hadits yang juga dituduh sebagi Syi'ah hanya karena banyak meriwayatkan tentang keutamaan keluarga Nabi. Al Turmudi, misalnya, dikeroyok orang, malah tubuhnya diinjak-injak sampai meninggal dalam perjalanan, hanya karena meriwayatkan keutamaan sayyidina Ali. Al Turmudzi itu perawi hadis di kalangan Ahlu Sunnah. Ada seorang perawi hadis, ulama besar, namanya Sulaiman al-A'mas. Ia termasuk salah seorang rijal dalam Shahih Bukhari. Al A'mas juga dituduh sebagai Syi'ah karena meriwayatkan tentang sayyidina Ali. Ketika dipanggil Al Mansur, ia hampir dihukum mati.

Imam Syafi'i boleh jadi bukan Syi'ah. Ia seorang yang dengan pemikiran ilmiahnya harus meriwayatkan hadis-hadis tentang Ali. Dari Imam Syafi'i lah misalnya keluar ucapan, "Ajaib benar hadis-hadis tentang Ali. Musuh-musuhnya tidak ingin meriwayatkannya, karena kebenciannya. Para pengikutnya juga tidak ingin melaporkannya, karena ketakutan mereka. Walaupun begitu, hadis-hadis tentang keutamaan Ali memenuhi di antara dua jilid (maksudnya hadis-hadis itu bisa dikumpulkan menjadi satu buku yang tebal)."

TANYA: Dari penjelasan Kang Jalal tadi, tampaknya definisi atau identifikasi tentang Syi'ah di Indonesia itu masih kabur. Menurut Kang Jalal sendiri bagaimana?

JAWAB: Memang sulit kita mengidentifikasikan Syi'ah di Indonesia ini. Dr. Farid Alatas (keponakan Prof. Dr. Naquib Alatas) pernah melakukan penelitian tentang Syi'ah di Indonesia. Ia mengalami kesulitan untuk mendefinisikan Syi'ah itu. Jadi kalau saya 'misalnya' ingin meneliti Syi'ah di Indonesia, saya harus mengenal populasinya. Siapa yang akan saya wawancarai itu. Tentu haruslah orang-orang Syi'ah di Indonesia. Nah, itu sulit definisinya. Karena itu, juga sulit untuk menghitung berapa jumlahnya di Indonesia.

Di sini saya ingin sebutkan beberapa definisi tentang Syi'ah di Indonesia. Pertama, Syi'ah itu adalah orang-orang yang meyakini bahwa Sayyidina Ali adalah yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah. Syi'ah seperti ini banyak. Boleh jadi masuk ke dalamnya Syi'ah Zaidiyyah yang memang punya akar di Indonesia. Ada juga beberapa orang di antara 'Alawiy yang merupakan pengikut Syi'ah Zaidiyyah. Markasnya di Yaman. Mereka tidak menjalankan ritus-ritus Syi'ah, tetapi akidahnya Syi'ah.

Kedua, orang Syi'ah adalah orang yang memegang akidah dan juga menjalankan ritus-ritus Syi'ah. Fiqihnya juga fikih Syi'ah. Saya tidak enak untuk menyebutkan contohnya di sini.

Ada orang yang menyebut Ustad Muhammad Bagir, sebagai Syi'ah karena telah menerjemahkan rujukan-rujukan yang membela Syi'ah. Ia juga membela Syi'ah apabila Syi'ah diserang. Tetapi, orang yang datang ke rumahnya akan tahu bahwa ia seorang Sunni, betul-betul Sunni. Karena ritus-ritusnya, ibadah-ibadahnya, semua serba Sunni. Pernah seorang ulama Syi'ah kecewa melihat Ustad Bagir karena tidak se-Syi'ah seperti yang ia duga. Itu, lagi-lagi, karena masalah definisi.

Jadi, buat orang seperti ulama itu, Pak Bagir bukan Syi'ah. Tetapi buat yang lain, yang menggunakan definisi yang lain, Pak Bagir itu Syi'ah. Mungkin juga kalau ada orang yang mengikuti saya dalam kegiatan ibadah saya, misalnya, bermalam satu hari bersama saya, dan menyaksikan saya salat di masjid Sunni, saya beribadah secara Sunni, maka mereka akan mengambil kesimpulan bahwa saya bukan Syi'ah.

Akan tetapi, lewat definisi yang lain, yakni definisi ketiga, Syi'ah itu adalah orang-orang yang terpengaruh oleh pemikiran Syi'ah, baik dalam bidang akidah, filsafat, atau tasawuf dan menggunakan buku-buku Syi'ah sebagai rujukan. Atau juga, mereka yang dikenal membela ajaran-ajaran Syi'ah disebut Syi'ah. Dengan definisi itu, mungkin saya termasuk.

Kalau definisi-definisi itu kita persempit saja pada orang-orang yang, misalnya, akidahnya sudah Syi'ah dan ritus-ritusnya sudah mereka jalankan, kitapun mengalami kesulitan. Sebab, masalahnya bukan terletak pada apakah ia menjalankan ritus-ritus Syi'ah? Atau, apakah ia menjalankan fikih Syi'ah atau tidak? Sebetulnya bukan masalah "Ya" atau "Tidak", tetapi masalah jumlah, masalah proporsi. Ada orang yang sudah menjalankan fikih Syi'ah itu 10% saja. Misalnya, ia hanya ikut ritus-ritus Syi'ah pada acara-acara muharraman saja. Kemudian pada doa-doa saja. Ada beberapa ulama di Indonesia sekarang ini yang rajin membacakan doa-doa Syi'ah. Bahkan, ada beberapa pengajian ibu-ibu di Jakarta yang Sunni betul --atau barangkali mereka tidak tahu apakah mereka Sunni atau Syi'ah-- yang sering melazimkan doa-doa Syi'ah.

Jadi, ketika kita berbicara bahwa yang disebut Syi'ah ialah mereka yang ritus-ritusnya adalah ritus Syi'ah, maka kita akan mengalami kesulitan karena proporsi menjalankan ritus Syi'ah itu bermacam-macam. Ada yang 50%, ada juga yang sudah 70%, dan sebagainya. Kesulitan kita mengidentifikasikan Syi'ah bukan saja karena orang-orang Syi'ah 'katanya' selalu taqiyyah, dan tidak mau menyatakan dirinya Syi'ah, tetapi juga karena proses sosialisasi nilai-nilai Syi'ah itu yang bertahap-tahap, tidak sama, sehingga kita sulit mendefinisikan secara tepat siapa orang-orang Syi'ah itu.

TANYA: Tetapi, lepas dari definisi Syi'ah yang agak ketat, bagaimana sebenarnya perkembangan Syi'ah di Indonesia secara umum?

JAWAB: Di sini saya ingin membagi babakan penyebaran Syi'ah di Indonesia dalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang sebelum peristiwa RII. Saya punya bukti kuat bahwa sebelum Revolusi Islam Iran (RII) Syi'ah sudah ada di Indonesia. Baik Syi'ah Imamiyah, Zaidiyah maupun Isma'iliyah. Tetapi waktu itu Syi'ah sangat eksklusif. Mereka tidak punya semangat misionaris untuk menyebarkan ajarannya kepada orang lain. Mereka menyimpan itu sebagai keyakinnya sendiri. Di luar itu, mereka menjadi pengikut Ahlu Sunnah, berakomodasi dengan lingkungan. Boleh jadi di antara mereka adalah ulama-ulama besar yang dikenal dengan ulama Sunni.

Mereka menyimpan keyakinan itu hanya untuk diri mereka sendiri dan mungkin untuk keluarga yang sangat terbatas. Kita menduga mereka tidak hadir di tengah-tengah kita. Kita menduga bahwa tidak ada Syi'ah sebelum RII. Paling tidak, saya tidak menduga bahwa sebelum RII itu ada Syi'ah. Ada seorang al-Muhdor, salah satu famili arab yang terkenal. Al-Muhdor tampaknya adalah keluarga yang memelihara Syi'ah itu khusus untuk keluarga mereka. Mungkin secara sedikit-sedikit mereka menyebarkan ajarannya lewat orang-orang terdekat.

Setelah RII, masuklah Syi'ah gelombang kedua. Gelombang kedua ini ditandai dengan sifatnya yang intelektual. Orang-orang yang simpatik terhadap Syi'ah ini kebanyakan berasal dari perguruan tinggi. Kebanyakan di antara mereka juga tertarik kepada Syi'ah sebagai alternatif terhadap pemikiran-pemikiran Islam yang ada. Waktu itu, ketika banyak orang tertarik kepada Teori Kritis, tertarik kepada kelompok Neo Marxian, sebagian orang Islam menemukan hal yang mirip dengan itu pada pemikiran-pemikiran Syi'ah, seperti pemikiran Ali Syariati. Konsep-konsep 'kiri', seperti orang-orang tertindas, atau struktur yang korup, memperoleh padanannya dalam Islam pada istilah-istilah mustadh'afin, pada misi para nabi untuk menentang para tiran. Dan yang dengan jernih menyampaikan persoalan itu adalah para pemikir Syi'ah.

Karena itu, banyaklah orang yang tertarik kepada Ali Syariati. Orang cerita tentang mazhab Qum di samping mazhab Frankfurt, untuk kritik-kritik sosial. Tetapi kemudian, dari Ali Syariati mereka masuk pada pemikiran-pemikiran yang lebih mendalam, misalnya, pemikiran Muthahhari, Thabatabai, dan belakangan mulai populer juga pemikiran Mulla Sadra. Saya sepakat dengan Martin van Bruinessen yang menulis bahwa salah satu sumbangan Syi'ah gelombang kedua ini adalah kontribusinya pada kekayaan wacana intelektual Islam di Indonesia. Salah satu yang mereka sumbangkan adalah pemikiran filosofis pasca Ibnu Rusyd. Dulu, kalau belajar filsafat Islam, orang-orang tersebut mengakhiri pelajaran itu pada Ibnu Rusyd. Setelah kedatangan Syi'ah, kita diperkenalkan pada tradisi filsafat yang terus berkembang. Kalau kata Corbin, filsafat Islam itu justru dimulai setelah kematian Ibnu Rusyd dan mencapai puncaknya pada Mulla Sadra.

Jadi, orang-orang yang pertama kali tertarik kepada Syi'ah adalah kelompok-kelompok yang terdidik, yang intelektual. Mereka lebih tertarik kepada pemikiran Syiah ketimbang pada ritus-ritus atau fiqihnya. Kalau kita buat statistik, dari segi struktur sosial, para penganut Syi'ah itu berasal dari kelompok menengah ke atas, kebanyakan mahasiswa dan orang-orang perguruan tinggi. Dari segi mobilitas, banyak di antara mereka itu yang punya akses kepada hubungan Islam internasional. Dari segi ideologis, mereka cenderung radikal. Mereka lebih mirip dengan --atau padanan dari-- kelompok Neo-Marxian, Teori Kritis atau kelompok 'kiri' di dunia Islam atau di kalangan Islam.

Kemudian, belakangan, Syi'ah mulai menyebar di Indonesia dan mendapat reaksi keras, terutama dari sementara kalangan Sunni. Ketika berhadapan dengan tuduhan-tuduhan Syi'ah, Syi'ah gelombang kedua ini berusaha menangkisnya. Karena serangan-serangan itu banyak ditujukan kepada akidah-akidah Syi'ah yang doktriner, bukan pada pemikiran yang intelektual, misalnya masalah imamah, maka mulailah Syi'ah gelombang kedua itu pun bergerak ke luar dari hal-hal yang intelektual dan memasukkan konsep-konsep imamah yang dijadikan serangan oleh orang-orang Sunni.

Ternyata kemudian, karena pertimbangan politik, dan karena pengaruh Saudi Arabia, buku-buku yang ditulis untuk menyerang Syi'ah menjadi lebih banyak. Isinya sekarang lebih mengarah kepada hal-hal yang bersifat fiqhiyyah. Jadi serangan-serangan beralih terhadap fikih Syi'ah, misalnya tentang mut'ah, sujud di atas tanah, atau yang lain. Serangan-serangan ini mendorong Syi'ah gelombang kedua ini untuk bergerak lebih jauh lagi dan lebih mempelajari fikih Syi'ah. Apa betul yang mereka tuduhkan itu? Menurut saya, ketertarikan kepada ritus-ritus Syi'ah, kepada fikih Syi'ah, itu lebih banyak terjadi karena 'provokasi' yang dilakukan oleh sementara ulama Ahlu Sunnah. Mereka akhirnya menemukan, ternyata fikih Syi'ah itu punya dasar dan argumen juga.

Pada akhir gelombang kedua ini, pemikiran Syi'ah di Indonesia sudah bergerak dari pemikiran yang murni intelektual ke arah yang lebih mendalam secara filosofis, dan pada akhirnya juga memasuki bidang akidah dan fikih Syi'ah. Nah, pada gelombang kedua inilah terjadi dialog-dialog yang tak jarang menimbulkan friksi yang tajam di berbagai tempat antara kalangan Syi'ah dan Sunni. Yang paling keras, saya kira, terjadi di Surabaya, ketika kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai Syi'ah berhadapan langsung dengan kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai Ahlu Sunnah. Saya kira, itu menandai perguliran pada gelombang berikutnya, yaitu Syi'ah gelombang ketiga.

Setelah Syi'ah menyebar di Indonesia, terutama dari segi pemikiran, pada akhir gelombang kedua itu kita melihat ada kebutuhan akan fikih Syi'ah. Orang ingin belajar fikih Syi'ah. Buku-buku yang masuk ke sini sangat sedikit yang berkaitan dengan fikih. Umumnya buku-buku yang bersifat pemikiran, sementara buku-buku fikih jarang. Padahal kebutuhan akan fikih itu mulai muncul, terutama karena serangan-serangan sementara kalangan Sunni terhadap fikih Syi'ah.

Ketika kebutuhan itu muncul, datanglah orang-orang Indonesia yang pernah dididik di Qum. Ada di antara mereka yang dididik sebelum RII. Fenomena itu juga membuktikan bawa Syi'ah sudah ada di Indonesia sebelum RII sekalipun. Buktinya orang Indonesia yang belajar di Iran sebelum RII. Kalau saya harus menyebut nama, contohnya adalah Ustad Umar Shahab. Ia belajar di Iran sebelum RII sampai sesudahnya. Tetapi Ustad Umar ini dulu masih masuk dalam Syi'ah gelombang pertama. Jadi, walaupun ia dididik di Iran, orientasinya intelektual dan tidak fiqhiyyah.

Gelombang ketiga ini ditandai dengan kehadiran alumnus-alumnus Qum yang belakangan (setelah Ustad Umar). Orientasi mereka fikih. Ketika mereka datang ke Indonesia, mereka memenuhi kebutuhan akan fikih ini. Mulailah mereka memberikan pengajian-pengajian Syi'ah di berbagai tempat. Syi'ah gelombang ketiga ini juga ditandai dengan semangat misioner yang sangat tinggi. Mereka pulang dengan romantisme lulusan-lulusan muda. Bukankah biasanya romantisme lulusan muda itu merasa terpanggil untuk menyelamatkan dunia, yang salah satu caranya ialah membawa orang kepada fikih Syi'ah. Maka mulailah mereka mengajarkan fikih Syi'ah ini di berbagai pengajian.

Tentu saja, boleh jadi karena pendekatan yang sangat fiqhiyyah itu, atau memang karena latar belakang pendidikan mereka, dimensi intelektual pada kelompok ini sangat kurang. Dan akhirnya, mereka merekrut dan membina Syi'ah yang juga dari kalangan yang tidak begitu terpelajar. Ada juga di antara mereka yang membina kelompok Syi'ah gelombang kedua. Tetapi akhirnya Syi'ah gelombang kedua ini kecewa, mungkin karena orientasi yang berbeda. Belakangan Syi'ah gelombang ketiga ini menganggap Syi'ah gelombang kedua itu sebagai bukan Syi'ah yang sebenarnya. Jadi. Kalau saya dimasukkan ke dalam Syi'ah gelombang kedua, maka mereka menganggap saya bukan Syi'ah. Di dalam wacana internal Syi'ah sendiri, sekarang ini terjadi serangan yang cukup kuat terhadap Syi'ah gelombang kedua itu. Boleh jadi karena mereka ingin menghadirkan dirinya sebagai pemimpin Syi'ah di Indonesia. Boleh jadi juga karena mereka meyakini asumsi-asumsi mereka bahwa orang seperti saya ini bukan Syi'ah, dengan definisi yang berbeda itu.

TANYA: Untuk waktu yang akan datang, kira-kira Syi'ah di Indonesia itu bagaimana?

JAWAB: Beberapa waktu yang lalu, saya diundang ke IAIN Ujung Pandang. Fakultas Ushuluddin IAIN Ujung Pandang mengadakan Seminar Nasional "Rekonsiliasi Sunnah-Syi'ah." Kira-kira enam bulan sebelumnya, saya juga diundang ke Universitas Hasanuddin Ujung Pandang untuk dialog Sunnah-Syi'ah. Penyelenggaranya adalah mahasiswa yang menyebut dirinya MPM (Mahasiswa Pecinta Mushalla). Dialog ukhuwah Islamiyah itu ditandai dengan kekerasan. Saya sebagai pembawa makalah dibantai, dicaci-maki. Saya sendiri tidak membalas. Menurut saya, ini sebetulnya gejala dari massa Syi'ah gelombang kedua, ketika terjadi konflik Syi'ah-Sunni yang cukup berat. Ini mirip sekali ketika saya berdiskusi dengan Pak Rasjidi di Pesantren Darunnajah. Biasanya saya tidak menanggapi diskusi yang seperti itu. Jadi, saya tidak menjawab. Suasananya sangat tegang.

Tetapi, awal Oktober 1995, ketika saya kembali ke sana lagi, seminar semacam itu dikunjungi oleh peserta yang jauh lebih banyak. Mungkin lebih dari 1000 orang. Suasananya sangat ilmiah. Tidak ada saling membantai, saling menyerang. Tetapi intinya, bagaimana setiap kelompok bisa belajar satu sama lain. Seakan akan ada pesan dari situ: Biarlah Sunni tetap Sunni. Syi'ah tetap Syi'ah. Hendaknya di antara kedua kelompok itu ada saling belajar satu sama lain. Saya sendiri membawakan makalah tentang apa yang bisa dipelajari dari Syi'ah oleh Sunni.

Saya menunjukkan bagaimana orang-orang Syi'ah sudah lebih dahulu belajar dari Sunni. Saya sebut antara lain Sayyid Ali Khameini, yang menjadi Imam Syi'ah sekarang ini, adalah penerjemah Kitab Fi Zhilal al-Quran ke dalam bahwa Persia. Kitab Ihya' 'Ulum al Din, tulisan Al-Ghazali, diberi syarh oleh ulama-ulama Syi'ah dan dipelajari di pesantren-pesantren mereka. Imam Khomeini menyebut Ibn Arabi sebagai salah seorang gurunya. Padahal Ibn Arabi adalah Syeikh Akbar kalangan Sunni.

Contoh lain, kalau kita pergi ke Qum, di situ ada pasar kitab. Walaupun tidak menghitung dengan cermat, saya bisa melihat bahwa 80% dari kitab yang ada di situ adalah kitab-kitab Ahlu Sunnah. Di kalangan Syi'ah tidak ada ketakutan untuk membaca kitab-kitab Sunni. Mereka sudah belajar tentang Sunni. Adalah giliran kita sekarang untuk belajar dari mereka, sehingga kehadiran kedua kelompok ini memperkaya wacana perbincangan kita.

Dari situ saya menyaksikan ada suatu perkembangan baru, khususnya untuk penyebaran Syi'ah. Kalau peristiwa di IAIN itu bisa dijadikan sebagai sebuah tonggak dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia., maka saya berani mengatakan bahwa eksistensi Syi'ah sudah diakui. Kecenderungan untuk hidup secara damai antara Sunni-Syi'ah sudah tumbuh. Ini sebuah kecenderungan baru. Karena sebelumnya, pikirannya ialah bagaimana saling meniadakan, saling menafikan satu sama lain. Sekarang muncul upaya untuk saling memahami, saling menghormati dan saling belajar. Sebagian orang mungkin akan beranggapan itu pertanda bahwa sudah banyak sekali yang menjadi Syi'ah.

Dari indikator-indikator itu saya berfikir, mungkin pertanyaannya bukan apakah Syi'ah akan berkembang pesat di Indonesia, tetapi --lebih persis lagi-- apakah pemikiran Syi'ah akan mendapat tempat yang lebih luas di Indonesia. Dan untuk itu, jawabannya "ya". Karena, paling tidak, sekarang sudah ada pengakuan akan eksistensi mereka. Nanti penerusnya akan muncul. Bahkan bukan label Sunni dan Syi'ah saja. Sunni dan Syi'ah itu mungkin sudah tidak relevan lagi. Karena yang Sunni sudah sangat terpengaruh Syi'ah, yang Syi'ah juga sudah sangat terpengaruh Sunni.

Label Sunni dan Syi'ah itu mungkin hanya diletakkan pada tataran abstrak saja, pada tataran konsepsual saja. Pada kehidupan sehari-hari, mungkin pengelompokan menjadi kelompok Syi'ah dan kelompok Sunni tidak terjadi. Bahkan menurut saya, tidak bakal terjadi satu ormas Syi'ah. Atau saya bisa menduga, di masa depan, orang-orang Syi'ah akan terdapat pada setiap organisasi Sunni. Pada organisasi Sunni akan ada unsur Syi'ah, tanpa rasa risih. Mereka diterima hadir sebagai bagian dari umat Islam, sebagaimana juga sekarang telah ada saling melintas batas antara orang NU dan Muhamadiyah.

TANYA: Sementara ini, komentar pemerintah terhadap gerakan Syi'ah di Indonesia bagaimana?

JAWAB: Saya melihat ada toleransi dari pemerintah terhadap orang-orang Syi'ah. Sebab mereka melihat bahwa Syi'ah di Indonesia ini hanyalah Syi'ah intelektual. Jadi, mereka tidak merasa harus khawatir terhadap Syi'ah sebagai sebuah gerakan revolusioner.

TANYA: Mengenai fatwa dari MUI?

JAWAB: Memang ada fatwa dari MUI untuk berhati-hati terhadap Syi'ah. Tetapi untuk melarang Syi'ah tidak ada. Karena pada waktu MUI mengeluarkan fatwa itu (melarang) beberapa tokoh cendekiawan Islam di MUI keberatan. Sehingga akhirnya kata-katanya diperlunak: tidak lagi melarang, tetapi pokoknya harus mewaspadai aliran Syi'ah. Sekiranya nanti ada kecurigaan dari pihak pemerintah terhadap Syi'ah, saya menduga kecurigaan itu hanyalah akibat dari lobbying yang dilakukan oleh orang-orang yang anti Syi'ah. Jadi orang-orang yang anti Syi'ah itu berusaha memberikan gambaran tertentu kepada pemerintah, sehingga mereka kemudian mencurigai Syi'ah.

Sebagi contoh, beberapa waktu lalu di Semarang ada diskusi antara Depag dan ormas-ormas Islam. Setelah diskusi mereka mengajukan resolusi untuk melarang Syi'ah, khususnya di Jawa Tengah. Itu terjadi setelah ada peristiwa seorang ustad yang katanya mut'ah dengan beberapa orang muridnya di Sragen. Ustad itu, menurut saya, termasuk Syi'ah gelombang ketiga, yang lahir setelah hadirnya Syi'ah fiqhiyyah yang dibawa oleh sebagian lulusan Qum itu. Tetapi mereka sampai sekarang tetap merupakan minoritas.

Jadi, mayoritas Syi'ah yang ada di Indonesia sekarang adalah Syi'ah gelombang kedua. Sementara yang gelombang ketiga itu minoritas. Kalau saya berbicara dari segi pemerintah, Syi'ah gelombang kedua itu lebih mudah diterima oleh pihak pemerintah daripada yang ketiga. Tetapi, saya pikir, Syi'ah gelombang ketiga itupun hanya entry point saja. Pada waktu yang lama mereka akan lebih toleran. Aliran apapun dalam Islam, kalau orientasinya fikih, itu akan cenderung mendorong konflik. Konflik Muhammadiyah dan NU itu sebenarnya dari segi fikih. Jadi aliran apapun, kalau dasarnya fikih, akan melahirkan konflik.

TANYA: Mungkin Syi'ah gelombang ketiga yang sangat fiqhiyyah itu, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang-orang Sunni selama ini. Sebab, walaupun menurut Kang Jalal mereka itu minoritas, tetapi gerakan-gerakannya cukup eksklusif dan sekaligus agresif sehingga kelihatannya besar. Ini bagaimana menurut Kang Jalal?

JAWAB: Ciri setiap orientasi Islam yang bersifat fiqhiyyah adalah mendorong konflik dan cenderung eksklusif. Sebab fikih kemudian menjadi identitas golongan. Jadi, kalau fikih Anda sama dengan fikih saya, Anda satu golongan dengan saya. Kalau fikih Anda tidak sama, Anda di luar golongan saya. Fikih menjadi stempel kelompok. Menurut saya, hal semacam itu bukan terjadi pada Syi'ah saja, tetapi juga terdapat pada kelompok-kelompok harakah Sunni. Ia cenderung eksklusif kalau orientasinya fikih. Sekali lagi, yang eksklusif itu bukan hanya kelompok Syi'ah gelombang ketiga tadi, atau yang dibina oleh mereka, juga kelompok-kelompok harakah yang sekarang berada di universitas-universitas umum, misalnya di UI. Mereka juga cenderung eksklusif. Lalu mengapa mereka kelihatan lebih banyak, karena mereka cenderung konfrontatif. Di sana-sini bikin masalah. Kelihatannya memang banyak, tetapi secara statistik, jumlah mereka ini boleh dibilang negligible, bisa diabaikan. Saya pikir mereka tidak akan mewarnai Syi'ah di masa depan. Pada akhirnya mereka hanya akan termasuk kontributor, memberi nuansa fikih. Karena saya pikir itu pun diperlukan.

TANYA: Menyinggung buku-buku Syi'ah di Indonesia. Kita tahu bahwa banyak buku yang diterbitkan untuk meng-counter pemikiran Syi'ah. Sebaliknya, sekarang banyak juga buku yang apresiatif terhadap Syi'ah.

JAWAB: Kalau dari segi buku, saya kira yang sangat populer tentang Syi'ah adalah buku Dialog Sunnah-Syi'ah. Sesudah itu kemudian bermunculan buku-buku yang menyerang Syi'ah. Antara lain yang ditulis oleh Ihsan Ilahi Zahir, al-Tunsawi. Kemudian disusul dengan buku-buku yang ditulis orang Indonesia, antara lain ditulis Pak Rasjidi. Akan tetapi buku-buku itu lebih merupakan kumpulan kutipan dari buku-buku terjemahan. Lalu, pada saat yang sama, orang-orang Syi'ah juga menulis buku-buku. Umumnya, kalau kita menganalisis buku-buku itu, saya tidak menemukan buku Syi'ah yang khusus ditulis untuk menyerang akidah Ahlu Sunnah. Buku Ihsan Ilahi Zahir tidak memperoleh jawaban dari kalangan Syi'ah.

Mestinya ada buku yang membantah buku tersebut, sebagaimana orang Sunni pernah menulis bantahan terhadap Dialog Sunnah-Syi'ah. Orang-orang Syi'ah tidak menulis bantahan terhadap buku-buku yang menyerang mereka. Mereka masih tetap melanjutkan tradisi dialogis, bukan monologis. Misalnya, Penerbit Mizan kemudian menerbitkan buku Isu-Isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi'ah. Saya membaca buku itu dan mendapat kesan bahwa pengarangnya tetap membawa misi persaudaraan Islam, walaupun di situ ia membela paham-paham Syi'ah.

Kemudian, belakangan mulai ada orang-orang Syi'ah --yang sulit didefinisikan itu-- yang menulis buku. Sebetulnya mereka tidak membela paham Syi'ah, tetapi dianggap membela Syi'ah. Misalnya, Ustad Hussen al Habsyi menulis buku kecil berjudul Rasulullah Tidak Bermuka Masam. Ia mempertahankan bahwa Rasulullah itu ma'shum, dan bahwa salahlah orang yang menuduh bahwa 'abasa wa tawalla itu ditujukan kepada Nabi. Itu keliru katanya, dengan keinginan untuk membela kesucian Nabi dengan argumentasi-argumentasi. Setelah itu muncul lagi buku kecil (kalau tidak salah judulnya Rasulullah Memang Bermuka Masam), yang membantah Ustad Hussein. Sayangnya beliau tidak menjawab lagi, karena meninggal dunia, bukan karena diserang buku itu.

Jadi, dialog terjadi dalam bentuk tulisan polemis. Menurut saya itu gejala yang sehat. Kita bisa melihatnya dengan gembira bahwa sekarang dialog-dialog itu sudah diangkat dari konflik-konflik yang bersifat fisik, ke arah dialog yang bersifat intelektual --lepas dari seberapa besar kualitas intelektualnya.

Contoh lain adalah buku saya Islam Aktual. Menurut saya, buku itu sama sekali tidak mencerminkan pemikiran Syi'ah secara khusus, tetapi lebih merupakan pemikiran yang dipengaruhi Syi'ah. Artinya tema-temanya adalah tema-tema umum yang bisa diterima oleh semua mazhab. Tidak ada fikihnya di situ. Tetapi sebagian orang menganggapnya buku Syi'ah. Ada seorang penulis buku dari Solo yang mengkritik buku saya. Judulnya --kalau tidak salah-- Santri Menjawab Kritik Cendekiawan. Jadi saya di anggap cendekiawan, dan penulis menyebut dirinya santri. Pokoknya ia mengkritik buku itu habis-habisan, walaupun kritiknya itu tidak relevan.

Pada perkembangan berikutnya, ada juga beberapa tulisan tentang Syi'ah yang sangat apresiatif terhadap pemikiran-pemikiran Syi'ah, atau sangat dipengaruhi oleh pemikiran Syi'ah. Tulisan-tulisan Sayyid Hussein Nasr, misalnya, juga memperoleh pembaca yang banyak.

TANYA: Mengenai hubungan antara Syi'ah di Indonesia dengan Syi'ah di pusat, di Iran. Apakah hubungan atau network itu ada.

JAWAB: Dulu tidak ada hubungan sama sekali, sampai dengan gelombang pertama dan kedua, baik secara organisatoris maupun hubungan sosial. Yang saya maksud dengan hubungan sosial itu begini. Dalam Syi'ah ada konsep marja'iyyah. Seorang Syi'i harus mempunyai seorang marja', seorang ulama yang diikuti dalam urusan fikih. Syi'ah-Syi'ah gelombang kedua itu tidak punya marja' tertentu. Pada Syi'ah gelombang ketiga masuklah para penyebar fikih Syi'ah. Sejalan dengan itu masuk juga sistem marja'iyyah. Hubungan Syi'ah dengan marja'-nya itu harus kita lihat sebagai hubungan sosial saja: seorang murid yang mengikuti gurunya, bukan hubungan organisatoris seperti anggota Muhammadiyyah. Jadi sewaktu-waktu ia bisa berganti marja', kalau menurut pertimbangannya bahwa marja' yang lain itu lebih masuk akal.

Di Indonesia, saya kira ada yang mengikuti marja di Iran. Ada juga yang mengikuti marja' di Irak. Ada beberapa Syi'ah yang mengikutinya, dan kerena mereka mempunyai marja', jadi hubungan sosial mereka hanya dengan kelompok-kelompok satu marja'

TANYA: Kang Jalal bisa cerita tentang proses belajar atau nyantri di Qum. Sebab ternyata banyak juga mahasiswa Indonesia yang ke sana. Juga mengenai beasiswanya, apa ada dari pihak Iran, misalnya?

JAWAB: Kalau Anda belajar di pesantren Iran, apakah Anda itu orang asing ataupun orang Iran, Anda akan mendapat santunan dari para ulama. Kalau di Indonesia santri yang bayar ulama, di Iran ulama yang bayar santri. Mereka diberi uang bulanan yang kecil, sekitar 50.000 rial. Cukuplah untuk makan yang sangat sederhana. Kemudian tinggal di pondok-pondok itu tidak bayar. Itulah yang mungkin kita sebut beasiswa. Beasiswa dalam benak kita hanyalah diterima sebagian murid. Kalau ini, seluruh murid yang ada di situ dapat uang bulanan.

Sebenarnya tidak ada prosedur resmi seperti beasiswa dari pemerintah Iran. Kalau saya ditanya apakah ada beasiswa dari pemerintah Iran untuk pelajar Indonesia, saya bisa menyebutkan dengan pasti, "Tidak. Tidak ada sama sekali". Saya dulu pernah ingin belajar di Iran, berharap dapat beasiswa dari pemerintah Iran, atau melalui kedutaannya di sini, tetapi tidak dapat. Saya bayar sendiri. Kemudian di sana, saya sebetulnya melamar ingin belajar teologi, dan sudah disetujui dan diterima oleh Prof. Mehdi Muhaghegh untuk mengambil program doktor di Universitas Teheran. Saya berangkat ke sana dengan biaya sendiri dan tinggal satu tahun. Setelah setahun, saya diberitahu bahwa saya sudah diterima di Universitas. Tetapi sayang, waktu itu saya sudah mengambil keputusan untuk pulang. Jadi saya tidak ambil.

Itulah proses birokrasi Iran. Dan itu menunjukkan betapa sulitnya memperoleh beasiswa dari pemerintah Iran. Lebih mudah memperoleh beasiswa ke Saudi atau ke Mesir ketimbang ke Iran. Hanya saja kalau ada orang yang punya maksud ingin belajar di Iran, itu gampang. Asal ia bisa bayar sendiri ongkos ke Iran. Secara teoretis begitulah, gampang. Namun, secara praktis di sana ia harus mengenal beberapa orang yang akan mengurusnya. Secara teoretis sederhana saja.

TANYA: Ini pertanyaan terakhir. Dalam konteks pembicaraan kita tentang Syi'ah di Indonesia, sebenarnya di mana posisi Yayasan Muthahhari yang Kang Jalal pimpin?

JAWAB: Yayasan Muthahhari tidak didirikan untuk menyebarkan Syi'ah --dan sampai sekarang lembaga ini tidak menyebarkan Syi'ah. Di situ ada SMU. Mereka belajar fikih empat mazhab (Syafi'i, Hambali, Maliki, Hanafi). Mereka tidak mempelajari fikih Syi'ah secara khusus. Dari Muthahhari juga keluar Jurnal al-Hikmah, yang banyak menerjemahkan pikirian-pikiran Syi'ah. Tetapi sekali lagi hanya bersifat pemikiran saja, fikihnya tidak ada. Belakangan al-Hikmah sedikit menampilkan pemikiran Syi'ah. Malah lebih banyak menampilkan pemikiran-pemikiran kalangan orientalis. Sehingga Yayasan Muthahhari, dengan melihat isi al-Hikmah seperti itu, layaklah disebut sebagai "agen zionisme Barat." Jadi mungkin lebih layak Muthahhari ketimbang Paramadina atau Ulumul Qur'an. Jadi itu yang pertama: Muthahhari tidak didirikan untuk menjadi markas Syi'ah.

Lalu, kalau begitu, mengapa diambil nama Muthahhari? Itu karena tiga pertimbangan. Pertama, Muthahhari itu seorang pemikir Syi'ah yang sangat non sektarian, yang sangat terbuka. Ia sangat apresiatif terhadap pemikiran Sunni. Ia tidak pernah menyerang Sunni. Ia lebih banyak belajar dari Sunni. Karena itu kita ambil tokoh Muthahhari sebagai tokoh yang bersikap non sektarian, terbuka terhadap berbagai pemikiran, bukan karena Syi'ahnya.

Kedua, Muthahhari itu adalah orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Islam tradisional, tapi setidak-tidaknya cukup well informed tentang khazanah pemikiran Barat. Ia menjembatani dikotomi antara intelektual dan ulama. Kita pilih ia, antara lain karena pertimbangan itu, bukan karena Syi'ah. Karena misi Yayasan Muthahhari yang kedua adalah menjembatani antara intelektual dan ulama. Di Indonesia ini banyak cendekiawan yang menulis tentang Islam, tetapi tidak punya dasar dan tradisi Islam tradisional, sebagaimana juga banyak ulama Islam tradisional yang tidak mempunyai wawasan kemodernan. Muthahhari mencerminkan keduanya.

TANYA: Kalau itu alasannya, mengapa tidak dipilih Cak Nur saja yang lebih lokal? Toh iapun menggabungkan kedua tradisi itu. Ia juga nonsektarian, terbuka kepada berbagai pemikiran. Ia juga mewakili dua tradisi: Islam dan Barat.

JAWAB: Mengapa Cak Nur tidak dipilih? Itu karena ada pertimbangan ketiga, yakni, Muthahhari itu menggabungkan aktivisme dan intelektualisme. Selain seorang intelektual, pemimpin, dan penulis, ia juga aktivis. Seorang aktivis itu adalah seseorang yang punya misi untuk melakukan perubahan sosial dan misi-misi yang sangat konkret. Cak Nur, menurut saya, lebih banyak intelektualismenya ketimbang aktivisnya. Jadi kita ambil Muthahhari.

TANYA: Lalu, dimana posisi Muthahhari dalam penyebaran Syi'ah, atau di kalangan komunitas Syi'ah yang lain?

JAWAB: Dalam penglihatan saya, Muthahhari tidak mempunyai nama yang begitu baik di kalangan Syi'ah, khususnya yang gelombang ketiga. Tetapi ia masih tetap punya banyak massa yang bercorak gelombang kedua itu, yaitu orang-orang Syi'ah tertentu yang lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat intelektual dan tidak bersifat fiqhiyyah. Muthahhari juga masih punya dukungan di kalangan mahasiswa, di kelompok-kelompok terdidik, karena dulu para pendukung Yayasan ini banyak yang berasal dari ITB dan Unpad. Mereka sekarang telah lulus jadi sarjana dan tersebar di berbagai tempat, tanpa membawa nama Syi'ah. Tetapi di kalangan Syi'ah yang belakangan, yang gelombang ketiga itu, Muthahhari tidak begitu oke. Bahkan, ada sekelompok Syi'ah di Jakarta yang mengecam Muthahhari dan mengganggapnya sebagai Syi'ah yang 'murtad,' di luar kelompok mereka.

Di posting dari http://media.isnet.org/islam/Etc/DikotomiSS1.html

Sabtu, 12 Juli 2008

Sikap Terhadap Sahabat

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi'ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim, seperti si munafik 'Abdullah bin 'Ubay dengan kelompoknya yang berjumlah 300 orang yang melakukan desersi sebelum perang Uhud. Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti "Riwayat Hidup Rasulullah SAW" karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, "Sirah Nabawiyah" jilid II, hal. 213.

Atau Mu'awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi'ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi'ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat hadits-hadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar'i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?

Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka 'aib' para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.

Syi'ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur'an turun dirumah mereka. Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka?

Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur'an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai'un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan 'perang lalat' di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang 'berbahaya' tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?

Mengapa mereka harus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu'minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi'ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim!

Haruslah diakui bahwa pandangan Syi'ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, 'udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala.

Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap 'Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam 'Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar!

Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu'minin 'Aisyah yang memerangi 'Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu. Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini.

Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi'ah, tetapi kaum Wahabi!

Sebaliknya kaum Syi'ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin.

Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang 'kufur' dan 'munafik'. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97).

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur'an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab "Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu". Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut.

Apakah pandangan Syi;ah tersebut 'kufur' atau 'sesat'? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin.
Di posting dari www.abatasya.net



Minggu, 27 Januari 2008

Ali bin Abi Tholib




ALI BIN ABI THALIB PENDIRI MAZHAB CINTA

Satu-satunya manusia yang dilahirkan di bawah naungan Ka’bah adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika ibunya, Fathimah binti Asad, dalam keadaan hamil tua, ia thawaf mengelilingi Ka’bah. Pada saat itulah, datang tanda-tanda bahwa ia akan segera melahirkan. Abu Thalib lalu membawanya masuk ke dalam Ka’bah dan di tempat itulah Ali bin Abi Thalib lahir.

Menurut satu riwayat, ibunya meminta agar anak yang baru lahir itu diberi nama Haidar, yang berarti singa. Kakek dari arah ibunya bernama Asad, yang juga berarti singa. Tetapi Abu Thalib berkata, “Kita tunggu saja sampai Rasulullah saw datang.”....
Masih menurut riwayat ini, Ali kecil tidak mau menyusu kepada ibunya sebelum Rasulullah saw datang. Ketika Rasulullah saw tiba, ia mengecup Ali dan Ali pun mengecup Nabi. Rasulullah saw menamainya ‘Ali yang berarti orang yang memiliki ketinggian. ‘Ali adalah salah satu nama Tuhan. Misalnya dalam ayat, “Wa lâ ya’udduhû hifzhuhumâ wa huwal ‘aliyul ‘azhîm.” (QS. Al-Baqarah 255). Sama halnya dengan nama Muhammad, yang juga merupakan nama Tuhan, seperti dalam hadits Qudsi, “Ana Mahmud, wa anta Muhammad. Aku Tuhan adalah Yang Terpuji dan engkau juga adalah yang terpuji,”

Ali tumbuh besar bersama Rasulullah saw. Ketika Abu Thalib mengalami kebangkrutan dalam usahanya, ia mengirim putra-putranya ke tempat para saudaranya. Ali bin Abi Thalib diambil oleh Rasulullah saw. Ia dipelihara di dalam keluarga Nabi bersama Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Karena Rasulullah saw tidak mempunyai anak laki-laki, Nabi sering memperlakukan Ali bin Abi Thalib sebagai anak laki-lakinya.
Setelah Rasul meninggal dunia, ia sering bercerita bagaimana beliau suka merapatkan tubuhnya kepada tubuh Rasulullah saw. Imam Ali kw berkata bahwa ia masih dapat mengenang harumnya tubuh Rasul yang mulia. Rasul sangat mencintai Ali dan Ali pun sangat mencintainya.

Kelak pada zaman pemerintahan Muawiyah, Muawiyah menerapkan peraturan yang mengharuskan khatib di setiap akhir khutbahnya untuk melaknat Imam Ali kw. Orang dipaksa untuk menghujat Imam Ali kw. Ada seorang sahabat Nabi yang pergi ke mimbar untuk melaknat Imam Ali kw tetapi ia hanya berkata, “Demi Allah, ada tiga hal yang menyebabkan aku tidak mungkin mengutuk Ali bin Abi Thalib. Jika salah satu dari tiga hal itu saja ada pada diriku, itu lebih baik dari dunia dan segala isinya.” Hal pertama ialah bahwa Rasulullah saw pernah berkata sebelum Perang Khaibar, “Akan kuserahkan bendera kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian setelah itu, bendera diserahkan kepada Imam Ali kw. Lalu sahabat Nabi itu menyebut dua lagi peristiwa penting. Saya kutip hadits itu untuk menyatakan bahwa kecintaan Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib dinyatakan secara terbuka.

Ada sebuah hadits yang diterima keshahihannya oleh seluruh madzhab tetapi ditafsirkan berlainan. Hadits itu bercerita tentang peristiwa pada Haji Wada’, tanggal 18 Dzulhijjah. Ketika Rasulullah saw pulang bersama rombongan hajinya dari Mekkah menuju Madinah, di suatu mata air bernama Khum, Rasulullah saw berhenti. Ia melingkarkan serbannya kepada Imam Ali kw. Nabi mengangkat tangan Ali dan bersabda, “Man kuntu maulâh, fa hâdza ‘Aliyyun maulâh. Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya, hendaknya menjadikan Ali sebagai maulanya.”

Menurut penafsiran Ahlu Sunnah, yang dimaksud dengan maulâ di situ artinya adalah kekasih. Barang siapa yang menjadikan Nabi sebagai kekasihnya, hendaknya ia juga menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai kekasihnya. Penafsiran itu tidak salah. Ali adalah seseorang yang sangat dicintai dan dikasihi Rasulullah saw.

Ketika terjadi Perang Khandak, seorang kafir bernama ‘Amr ibn Wud ingin memulai pertempuran dengan mengajak duel. Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat-sahabatnya, “Siapa yang mau melawan ‘Amr ibn Wud?” Semuanya diam, kecuali Ali yang masih sangat muda. Ia berdiri dan berkata, “Saya, Ya Rasul Allah.” “Tidak,” jawab Rasul, “aku cari orang yang lebih tua.” Lalu Rasulullah saw menawarkan lagi kepada para sahabat tetapi tetap tidak ada yang menjawab. Semua orang tahu siapa ‘Amr ibn Wud. Ia adalah jago pedang yang tak terkalahkan.

‘Amr mengancam dari kejauhan, “Katanya kalau kalian mati dalam peperangan, kalian akan masuk surga. Siapa yang bersedia aku antarkan dengan cepat masuk ke surga?” Ancaman itu tidak ada yang menjawab kecuali Ali yang untuk kedua kalinya berdiri. Rasul kembali berkata, “Duduklah kamu sampai aku cari yang lebih tua lagi.” Ketika untuk ketiga kalinya, masih tidak ada yang menjawab seruan itu, Rasulullah saw mengirim Ali bin Abi Thalib. Kepadanya diberikan Pedang Dzulfiqar.

Saat Ali bin Abi Thalib berangkat, Rasulullah saw menangis dan bersujud di medan peperangan. Rasul berdoa, “Ya Allah, Engkau telah mengambil Abu Ubaidah, Engkau telah mengambil Hamzah dari diriku. Janganlah Kauambil Ali.”

Terjadilah duel itu. Suatu pertempuran yang amat dahsyat. Rasulullah saw menggambarkannya sebagai perang antara seluruh keislaman dan seluruh kekafiran. Mungkin yang dimaksud Rasul ialah, sekiranya Imam Ali kw kalah, maka kalahlah Islam secara keseluruhan dan jika Imam Ali kw menang, maka menanglah Islam secara keseluruhan. Atau barangkali yang beliau maksudkan ialah bahwa kepribadian Ali bin Abi Thalib itu mencerminkan seluruh keislaman dan kepribadian ‘Amr ibn Wud itu mencerminkan seluruh kekafiran. Singkat cerita, kita tahu akhirnya Sayidina Ali yang memenangkan pertempuran. Ketika ia kembali, Rasulullah saw menciuminya dengan berurai air mata.

Pernah satu saat Imam Ali kw dikirim untuk menaklukan pemberontakan yang tidak bisa ditaklukan oleh para sahabat Nabi yang lain. Ketika Ali pulang dari tugas itu, sambil memeluk Ali, Nabi bersabda, “Kalau aku tidak takut umatku akan memperlakukan kamu seperti orang-orang Kristen memperlakukan Nabi Isa as, akan aku ceritakan kepada mereka sesuatu yang sekiranya jika engkau lewat, orang akan memperebutkan bekas injakan kakimu.” Kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu kepada Imam Ali kw dalam waktu yang lama. Karena lamanya hal itu, para sahabat bertanya-tanya ihwal apa perbincangan itu. Setelah Imam Ali kw keluar, ia berkata, “Baru saja Rasulullah saw membukakan kepadaku satu bab ilmu pengetahuan. Dan dari satu bab itu dibuka lagi seribu bab ilmu pengetahuan yang lain.”

Rasulullah saw mendidik Imam Ali kw sejak kecil. Jika kita ingin tahu siapa kader Rasulullah saw yang dikaderkan sejak awal, maka itulah Imam Ali kw. Saya sebut sebagai ‘kader’, karena Rasulullah saw benar-benar mempersiapkan Imam Ali kw sejak awal. Rasulullah saw mengajarkan kepadanya satu pelajaran khusus yang tidak diberikan kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Sebagian di antara kita merasa berkeberatan akan hal ini, “Masa Rasulullah saw mengajar dengan pilih kasih. Bukankah salah satu sifat Nabi adalah Al-Tabligh? Jadi, Nabi harus menyampaikan seluruhnya. Masa Nabi menyembunyikan kepada sebagian sahabat dan hanya menyampaikan kepada Ali bin Abi Thalib?”

Rasulullah saw adalah guru yang baik. Seorang guru yang baik tidak akan mengajarkan seluruh ilmu kepada semua orang. Ilmu itu hanya diajarkan sesuai dengan tingkat pengetahuan orang yang diajar itu. Imam Ali kw sebagaimana diakui oleh para sahabat yang lain adalah orang yang paling tinggi derajat keilmuannya. Karena itulah, tentu saja ada ilmu yang diajarkan kepada Imam Ali kw, yang belum bisa disampaikan kepada sahabat Nabi yang lain yang kualifikasi keilmuannya belum sampai ke situ.

Tentang ilmu Imam Ali kw ini, Rasulullah saw bersabda, “Ana madînatul ‘ilmi, wa ‘Aliyyun bâbuhâ. Fa man arâdal madînah, fal ya’tihâ min bâbihâ. Akulah kota ilmu dan Alilah pintunya. Barang siapa yang mau memasuki kota, hendaklah ia datang melalui pintunya.” Hadits ini sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah saw. Nabi mengkaderkan Ali sejak awal dengan maksud untuk mempersiapkannya sebagai pelanjut yang akan meneruskan ajaran Islam sepeninggal Rasulullah saw.

Ketika Rasulullah saw meninggal dunia, umur Imam Ali kw masih muda. Sekitar tigapuluh tahunan. Seperti kita ketahui, Ali masuk Islam pada usia yang amat belia, sepuluh tahunan. Imam Ali kw dikenal sebagai orang yang pertama kali masuk Islam. Sebagian orang memperkecil hal ini dengan mengatakan bahwa Ali itu lelaki pertama yang masuk Islam, karena yang pertama kali masuk Islam adalah Sayyidah Khadijah. Belakangan, kenyataan ini diturunkan lagi dengan menyatakan bahwa Ali adalah anak-anak yang pertama masuk Islam, karena laki-laki yang pertama masuk Islam itu adalah Abu Bakar. Malahan ada juga yang masih menurunkan hal ini dengan mengatakan bahwa keislaman Sayidina Ali adalah tidak sah, karena beliau masuk Islam ketika masih kecil.

Ciri-Ciri Mazhab Alawi

Imam Ali kw adalah pemberi ruh suatu mazhab di dalam Islam. Yang saya maksud dengan mazhab adalah cara memahami Islam. Islam itu satu, tetapi bagaimana orang memahami dan mengamalkan ajaran Islam, itu berbeda-beda. Dan itu sudah terjadi sejak zaman Rasulullah saw. Hampir setiap sahabat mendirikan mazhab. Ada Mazhab Umari dari Umar ibn Khattab, Mazhab Abdullah ibn Umar, Mazhab Abdullah ibn Mas’ud, dan Mazhab Abu Hurairah. Setiap sahabat memiliki mazhab sendiri-sendiri disebabkan dalam memahami agama Islam, pendapat mereka berlainan. Karena itulah, amalan yang dikerjakannya pun berlainan. Dalam Ilmu Komunikasi ada yang disebut dengan Teori KAP atau Knowledge, Attitude, dan Performance. Setiap orang mempunyai knowledge atau pengetahuan yang berbeda, yang tidak mungkin sama dengan orang lain. Jika pengetahuan berbeda, maka attitude atau sikap kita pun berbeda. Dan jika sikap berbeda, maka performance atau perilaku pun akan berbeda. Suatu mazhab adalah rangkaian Knowledge, Attitude, dan Performance dari sebuah agama.

Di Indonesia saja, terdapat banyak mazhab. Misalnya saja suatu mazhab melarang orang untuk menangis bila ditinggal mati oleh anggota keluarga atau orang yang dicintainya. Menurut pengetahuan (knowledge) mereka, ada sebuah hadits Nabi yang mengatakan bahwa mayit akan disiksa oleh tangisan keluarganya. Dari situ tumbuhlah sikap (attitude) tidak senang kepada orang-orang yang menangis kalau ditinggal mati dan sikap senang kepada orang-orang yang tidak menangis bila ditinggal mati. Jika seorang isteri tidak meneteskan air mata setitik pun ketika suaminya meninggal dunia, orang akan memujinya, “Hebat, itulah isteri yang sabar dan tabah.” Dari sikap itu timbul perilaku (performance) kita untuk tidak menangis bila kita ditinggal mati. Jadi, kita bisa melihat hubungan antara Knowledge-Attitude- Performance.

Sebagian mazhab lain berpendapat, mereka memiliki pengetahuan bahwa Rasulullah saw pernah menangis ketika ditinggal mati oleh putranya, Ibrahim. Ibrahim ialah putra Rasul dari Maria Al-Qibthiya yang lahir di Madinah. Rasulullah saw sangat menyayanginya karena Rasul belum pernah mempunyai anak laki-laki. Setiap selesai Shalat Ashar, Rasul selalu menggendong Ibrahim mengelilingi Kota Madinah. Ketika dalam usia yang masih sangat kecil, Ibrahim meninggal dunia. Rasulullah saw menangis.. Beliau ditegur sahabatnya, “Ya Rasul Allah, kenapa kau menangis?” Rasulullah saw menjawab, “Inilah tangisan kasih sayang.” Mazhab ini berpengetahuan bahwa menangis ketika ditinggal mati itu dicontohkan Nabi untuk mengungkapkan kasih sayang. Dari hal itu, tumbuh sikap senang jika melihat orang yang menangis ketika ada yang meninggal dunia. Orang itu dilihat sebagai orang yang penuh kasih sayang. Mazhab ini pun menilai bila ada orang yang tidak menangis ketika ditinggal mati, maka orang itu bukanlah orang yang tabah, melainkan orang yang tidak punya kasih sayang. Perilaku yang muncul dari hal ini ialah jika ia ditinggal mati, ia akan menangis.

Kedua mazhab di atas sama-sama memahami ajaran Islam. Tetapi pengetahuan- nya berbeda, sikapnya berlainan, sehingga kemudian akhirnya perilakunya pun tidak sama.

Di zaman Nabi, setiap sahabat memiliki mazhabnya masing-masing. Secara garis besar, kita bisa membaginya ke dalam dua kelompok; kita sebut saja Mazhab Ali bin Abi Thalib (Mazhab Alawi) dan Mazhab Umar bin Khattab (Mazhab Umari). Apa perbedaan kedua mazhab ini? Mazhab Ali ditandai dengan keyakinan bahwa seluruh sunnah Rasulullah saw, baik dalam bidang akidah, ibadah, maupun mualamalah, harus diikuti tanpa kecuali. Menurut Mazhab Ali, Rasulullah saw tidak pernah berijtihad, karena ketentuan Nabi adalah nash. Rasulullah saw tidak pernah berbicara atas hawa nafsunya, melainkan atas wahyu yang diterimanya. Wa mâ yanthiqu ‘anil hawâ in huwa illâ wahyu yûhâ. (QS. Al-Najm 3) Rasulullah saw tidak pernah salah. Oleh karena itu, kita harus mengikuti semua yang diajarkan Rasulullah saw.

Adapun Mazhab Umari berpendapat bahwa kita harus mengikuti Rasulullah saw di dalam dua hal saja; urusan akidah dan ibadah. Dalam bidang muamalah atau keduniaan, Rasulullah saw tdiak wajib dipatuhi. Menurut mazhab ini, Rasulullah saw juga suka berijtihad dan kadang-kadang ijtihadnya salah. Oleh sebab itu, tidak perlu kita ikuti ijtihad yang salah. Rasulullah saw sering alpa dan salah. Bahkan Rasulullah saw pernah ditegur Allah swt dan kemudian dibetulkan oleh sahabatnya, seperti dalam peristiwa Perang Badar. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh mazhab ini, ketika perang berkecamuk, terdapat banyak tawanan. Rasulullah saw menginginkan agar tawanan itu dibebaskan dengan sejumlah uang tebusan. Sedangkan Umar bin Khattab menghendaki agar tawanan itu dibunuh saja semua. Akhirnya turun satu wahyu yang membenarkan Umar dan menyalahkan Rasulullah saw. Malahan Rasulullah saw ditegur Allah swt, “Kamu mencintai dunia, sementara Umar mencintai akhirat.”

Saya tidak akan lebih lanjut membandingkan kedua mazhab ini secara keseluruhan. Saya hanya akan memberikan ciri-ciri khas dari Mazhab Alawi. Ciri yang pertama, Mazhab Alawi menerima seluruh sunah Nabi. Baik dalam hal akidah, ibadah, ataupun muamalah. Tidak ada pemisahan antara urusan dunia dan urusan agama.. Tidak ada dalam mazhab ini hadits yang berbunyi, “Antum a’lamu fî umûrî dunyakum. Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” Ciri yang kedua, Mazhab Alawi ialah mazhab yang sangat mencintai persatuan di antara kaum Muslimin. Imam Ali kw sangat mencintai persatuan sehingga ketika ada orang yang berontak kepadanya, ia malah mengirim surat yang isinya mengajak mereka untuk berdamai. Bahkan ketika Imam Ali kw pernah hampir memenangkan suatu pertempuran, lawannya mengajak berdamai sehingga Imam Ali kw menghentikan peperangan. Tentu saja, hal ini menimbulkan reaksi dari para pengikutnya sendiri yang hampir memperoleh kemenangan.

Kecintaan Imam Ali kw terhadap persatuan kaum Muslimin dapat kita lihat dari suatu peristiwa peperangan antara Imam Ali kw dengan sesama umat Islam lagi. Saat itu, ada seseorang yang bingung harus bergabung ke kelompok mana. Karena kedua-duanya adalah kaum Muslimin. Ia bertanya kepada Amar bin Yasir -yang sudah berusia amat tua. Amar berkata, “Kau lihat bendera di sebelah sana? Dahulu di bawah bendera itu, kami berjuang bersama Rasulullah saw untuk membela turunnya Al-Qur’an. Sekarang di bawah bendera itu, kami berjuang untuk membela penafsiran Al-Qur’an.. Dahulu kami berperang ‘ala tanzîlil Qur’ân, sekarang kami berperang ‘ala ta’wîlil Qur’ân”

Orang-orang bertanya kepada Imam Ali kw, “Mau Anda sebut apa orang yang memerangi Anda itu?” Seseorang meng-usulkan, “Itulah orang-orang kafir.” Tapi Imam Ali kw menolak, “Tidak, mereka bukan orang kafir. Mereka mengucapkan syahadat dan melakukan shalat.” “Kalau begitu, merekalah orang-orang munafik,” berkata para pengikutnya. “Tidak,” ucap Imam Ali kw, “orang-orang munafik itu sedikit dzikirnya sedangkan mereka banyak dzikirnya.” Orang-orang bingung, “Kalau begitu, bagaimana kami harus memanggil mereka, Ya Amiral Mukminin.” Imam Ali kw menjawab, “Itulah saudara-saudara kita yang berbeda faham dengan kita.”

Ciri yang ketiga, Mazhab Alawi adalah mazhab cinta. Inilah sejenis keberagamaan yang didasarkan kepada cinta. Kita lihat doa-doa Imam Ali kw, doa-doa itu menggambarkan kecintaannya kepada Allah swt. Jika kita belajar Tasawuf, yang keberagamaannya didasarkan pada cinta atau mahabbah, seluruh aliran tarekat dalam Tasawuf itu bermuara pada Imam Ali kw dan keturunannya. Misalnya Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah.

Doa di dalam Mazhab Alawi dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah swt. Hanya dalam Mazhab Alawi, kecintaan kepada Allah swt mencapai puncaknya. Seperti dalam doa Imam Ali kw yang diajarkan secara khusus kepada muridnya, Kumayl bin Ziyad. Kumayl adalah murid Imam Ali kw yang paling setia. Karena kesetiaannyalah maka doa ini hanya diajarkan kepadanya. Saya akan tutup tulisan ini dengan menampilkan beberapa bait dari Doa
Kumayl tersebut yang menunjukkan begitu dalamnya kecintaan mazhab ini kepada Allah swt;
Tuhanku, junjunganku, pelindungku, pemeliharaku Sekiranya aku mampu bersabar menanggung azab-Mu
Bagaimana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu
Sekiranya aku mampu bersabar menahan api neraka-Mu
Bagaimana mungkin aku mampu bersabar tidak memandang wajah-Mu
Bagaimana mungkin aku tinggal di neraka
Padahal harapanku adalah ampunan-Mu

Tuhanku, limpahkanlah kepadaku anugerah-Mu.
Sayangi aku dengan karunia-Mu
Jagalah aku dengan seluruh kasih sayang-Mu
Jadikan lidahku selalu bergetar menyebut asma-Mu
Dan hatiku dipenuhi dengan kecintaan kepada-Mu