Jumat, 28 Oktober 2011

Hujan Di Sumsel, Datang di Jemput, Sudah Datang Di Tendang

 Masih ingat kejadian musim asap yang menyelimuti Sumsel pada saat kemarau beberapa minggu kemarin, dampak dari Pembakaran Hutan dan lahan oleh perusahaan HTI dan Sawit? Untuk menginggatnya kalian dapat baca disini.

Musim Asap telah membuat pemerintah Sumatera selatan bagai cacing kepanasan karena jika ini terus berlangsung,SEA GAMES yang Cuma berlangsung 10 hari itu, akan terganggu. Untuk itu diputuskan agar di buatlah hujan buatan yang dananya menggunakan uang Rakyat sebesar 10 Milyar. Sedangkan perusahaan pembakar tidak sedikitpun tersentuh oleh Hukum. *hanyaadadiindonesia

Kini Asap tak lagi menyelimuti Sumsel, hujan yang terjadi secara alami (not Buatan) di Bumi Sriwijaya telah membawanya pergi ke ujung sumatera. Yang tersisa hanya tinggal Penyakit ISPA yang diderita oleh 17.000 orang, di dominasi oleh masyarakat kelas menengah kebawa, tanpa sedikitpun tanggung jawab pemerintah dan perusahaan pencipta musim asap tersebut untuk memulihkan kesehatan mereka.

Datangnya hujan yang pada beberapa Minggu lalu sangat diharapkan sampai dengan harus di “jemput” secara paksa. Sekarang telah dianggap petaka bagi Propinsi Sumsel Khususnya Kota Palembang yang pada tanggal 11 Nopember nanti akan menjadi tuan rumah Sea Games.

Wajar jika Pemerintah menganggap kedatangan musim hujan merupakan sebuah petaka, apalagi dengan kondisi menjelang SEA GAMES, karena menurut Data yang di rilis oleh WALHI Sumsel, Propinsi sumatera selatan  merupakan daerah yang selalu mencatatkan dirinya sebagai salah satu Propinsi di Indonesia yang menjadi langganan Banjir.

Selama dua tahun terakhir 2009 – 2010 bencana ekologi banjir di sumsel mengalami peningkatan, di tahun 2009 bencana banjir hanya terjadi 48 kali sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 102 kali.

Banjir yang terjadi disebabkan oleh kerusakan Lingkungan di wilayah ULU (DAS MUSI) dari total luas 6,7 juta Hektar yang kini kondisinya masih baik, hanya sekitar 800.000 Ha. Sisanya, telah berubah menjadi wilayah Industri Pertambangan, Perkebunan Kelapa sawit, Hutan tanaman Industri dan Ilegal Logging.

Bencana banjir inipun diperparah oleh kerusakan lingkungan di wilayah Ilir khususnya di Palembang. Menjelang Sea Games banyak terjadi peralihan fungsi kawasan seperti RTH dan rawa rawa yang selama ini berfungsi sebagai daerah tangkapan Air, telah berubah (dirusak) fungsi Menjadi gedung gedung tinggi Seperti Hotel, Café, Mall dan venues Olah raga. Khusus dalam hal perusakan rawa, hal yang paling besar terjadi saat ini adalah di timbunnya Puluhan Hektar rawa di jakabaring menjadi Venues Venues Sea Games artinya ketika hujan menguyur Palembang khususnya di jakabaring (komplek SEA GAMES)air yang turun akan merebut wilayahnya kembali ( banjir) .

Ketakutan Pemerintah akan datangnya Hujan dan banjir saat SEA GAMES, membuat Pemerintah Sumatera Selatan gelap mata dan tidak mensyukuri berkah yang di berikan tuhan didalam setiap hujan yang turun, seperti yang Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf: 9).

Sehingga Pada dua hari yang lalu (26/10) Gubernur sumsel, Alex Noerdin menginstruksikan kepada pihak Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPPD) Sumsel untuk meminta Pihak Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang kemarin bertugas mendatangkan Hujan di Sumsel. sekarang diminta untuk mengusir HUJAN, harapannya agar  penyelenggaraan SEA GAMES nanti dapat berjalan dengan sukses tanpa halangan dan permasalahan.

Tindakan mengusir hujan karena takut Banjir menyerang saat SEA GAMES berlangsung, adalah tindakan yang tidak akan menyelesaikan akar dari persoalan karena sesungguhnya Hujan adalah berkah sedangkan banjir adalah sebuah dampak dari rusaknya Lingkungan Hidup yang sebenarnya disebabkan oleh kebijakan pemerintah sumsel sendiri yang tidak pernah pro terhadap Lingkungan Hidup. Hal ini dapat disamakan dengan pepatah “ Buruk Rupa Cermin di Belah”.

Rabu, 26 Oktober 2011

16 Hari Menjelang SEA Games, Kami (Tidak) Bangga

16 Hari menjelang event olahraga terbesar ASEAN dibuka, apa yang terjadi di kota ini, Kota dengan penduduk yang mencapai 1,6 juta jiwa yang di belah oleh sebuah sungai terpanjang di Pulau Sumatera yaitu Sungai Musi.
1319605064983628421 Pagi ini seperti biasa tepat pukul 8.30 pagi, ku tinggalkan rumah untuk berangkat menuju tempat aku biasa beraktifitas sehari hari yaitu sebuah lembaga non profit yang pada 15 oktober lalu tepat berusia 31 Tahun. Jarak rumahku dengan tempat ku bekerja sebenarnya tidak terlalu jauh Kurang lebih 5 Km. Tapi sejak hampir 2 tahun terakhir ini, tepatnya menjelang kota ini menjadi tuan Rumah SEA GAMES jarak yang dekat itu pun terasa jauh, dijauhkan oleh kemacetan yang selalu muncul menghiasi jalan jalan protokol yang ada di dalam kota ini.
Mungkin bagi orang yang biasa tinggal di pulau jawa khususnya Jakarta, hal hal seperti kemacetan ini sudah biasa mereka hadapi, dan bisa jadi mereka enjoy aja sambil berkata ”so what gitu loh”. Tapi bagi kami ini hal yang sangat membosankan. Dan bisa jadi jika ini terus terjadi maka banyak ”wong kito” yang menghabiskan masa tuanya di jalanan.. Oh tidak, Oh yes , Oh No .. teriak ku dalam hati ketika membayangkan masa tua ku nanti.
Lamunan jalanan ku yang amburadul itupun terhenti, ketika kulihat alat pengukur bahan bakar yang ada di Sepeda Motor ku, jarak antara jarum penunjuk dan garis merah hanya setebal lidi korek api. Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik tali gas motorku sekencang mungkin… Brum .. brum tos… crot… sepeda motorku pun berlalu dari lorong yang satu ke lorong yang lainnya . Tapi apa daya sekencang apa pun kutarik tali gas motorku, kecepatannya masih tidak dapat melebihi kecepatan motornya simoncelli dan sudah pasti juga aku tidak akan senasib dengan simoncelli (aku turut berduka atas kematiannya), yaitu tidak bisa lebih dari 60 Km/jam.
Sebentar lagi aku akan sampai di salah satu SPBU yang berada di persimpangan lampu merah yang di atasnya ada Fly Over satu satunya di Kota palembang. Dimana pemiliknya adalah orang nomor dua yang ada di Kota empek empek. Akan tetapi betapa terkejutnya aku, ternyata didepan ku berada saat ini, terdapat barisan panjang kendaraan bermotor baik roda 8,4,3 dan 2, mirip dengan gerbong kereta api milik PTBA yang setiap harinya hilir mudik menarik 40 gerbong batubara yang panjangnya lebih dari 1 Km, dari Kabupaten Muara Enim menuju Kota Palembang. Sedang antri untuk mendapatkan bahan bakar baik bensin maupun solar.
Oh Tidak… Teriak ku histeris (sambil tangan, kuletakan di Kepala) tapi hanya berani dalam hati, karena aku sadar jika jeritan ini kulakukan beneran, pasti seantaro palembang ini akan mendengarnya bagai harimau yang sedang mengaum menunjukan daerah kekuasaannya Aummmm…. Aummm… Guk guk.., heheh.
Nyanyian Ayu ting ting yg berjudul Alamat palsu pun segera ku dendangkan ”..kemana.. Kemana.. Kemana..” ya kemana lagi aku harus mencari bahan bakar Bensin untuk memberikan nafas kehidupan kepada satu satunya motor milik ku. karena aku yakin, jikapun aku harus pindah mencari SPBU lain, aku pasti akan menemui hal yang sama dengan SPBU ini atau bisa jadi POM bensinya tutup karena stock BBM mereka habis. Pikiran ku mulai menerawang membayangkan beberapa kejadian 2 hari lalu, seandainya kemarin aku jadi membeli sepeda pasti gak akan seperti ini, tapi apa mau dikata uang ku gak cukup untuk membeli sepeda yang harga termurahnya saja harus dibayar dengan ” Satu batang” uang ratusan ribu rupiah.. Oh nasib… susahnya hidup dan mencari uang di negeri yang setengah gagal dan dipimpin para Koruptor.
Mau tidak mau.. aku harus rela membuang waktu ku untuk masuk dalam barisan para pencari BBM ini. Singkat waktu 30 menit telah berlalu, akhirnya aku berada di posisi terdepan dalam barisan ini.. kutarik nafas panjang panjang sambil berkata ”Alhamdulillah yah..” akhirnya Tangki Motorku penuh. seperti biasa dengan kondisi tangki seperti ini 4 atau 5 hari kedepan baru aku mengulang mendatangi SPBU ini. Eitt … STOP !! aku tahu apa yang ada di benak kalian (pembaca), kalian pasti mau memuji betapa hematnya motorku. iYa kan ?. tapi aku mohon (sambil mendekapkan kedua tangan di depan dada dan diikuti dengan mimik wajah yang memelas) jangan membuat aku melayang tinggi dengan pujian kalian. Aku belum pantas untuk mendapat pujian dan sanjungan ini. Karena sebenarnya bukan mesin kendaraanku yang hemat tapi karena motor ini aku gunakan hanya untuk pergi dan pulang dari tempatku beraktifitas sehari hari.. selebihnya jika aku pergi ketempat lain aku selalu menumpang kendaraan umum atau meminjam kendaraan temanku yang lain dan tak lupa juga untuk mengajak si empunya kendaraan untuk pergi menemaniku. (mengoptimalkan dan mengefektifkan fungsi kendaraan yang bisa dinaiki oleh 2 orang adalah program Hemat energi paling Efektif).
————————————————————–
Sampai lah aku di tempatku kerja… diatas meja sudah terdapat 3 tumpuk surat kabar lokal maupun Nasional, dan mataku pun tertuju untuk membaca Headlines salah satu surat kabar Lokal yang merupakan member dari gramedia. Tertulis besar judul berita ” Pengusaha SPBU Ancam Tutup” rasa penasaran ku pun makin menjadi dan aku pun tak akan lama menahan rasa penasaran untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
TERNYATA, apa yang terjadi saudara saudara.. .?? terjadi kelangkaan BBM di Sumatera Selatan khususnya Kota palembang.
1319605343532277003 Wadaw .. ternyata inilah yang menyebabkan peristiwa yang aku alami tadi dan memaksa aku untuk mengaum di pagi hari bolong. ”Ternyata Antrian panjang kendaraan di SPBU dan menyebabkan kemacetan panjang di jalan sekitar SPBU tersebut akibat dari ini toh”.. kataku dalam hati.
Ku teruskan membaca berita koran ini dan inti berita yang aku dapat adalah BBM langka karena pasokan yang dikirim oleh Pertamina tidak dapat mencukupi kebutuhan BBM kendaraan milik masyarakat Sumatera selatan dan sekitarnya terkhusus BBM jenis Solar. Dan hal ini menurut pihak pertamina karena tidak ada koordinasi yang di lakukan oleh Gubernur Sumatera selatan kepada Pertamina untuk meminta penambahan kuota pasokan BBM di Sumsel menjelang SEA GAMES ini, selain itu juga menurut Pertamina jatah atau kuota BBM yang ditetapkan oleh pemerintah untuk Sumatera selatan sudah mulai menipis. (Dalam tulisan lain nantinya, aku akan tuliskan beberapa fakta penyebab Kelangkaan dan quota BBM ini cepat menipis padahal Sumsel negeri kaya Energi)
SEA GAMES lagi SEA GAMES lagi ah.. betapa banyak kerugian yang kami masyarakat Sumatera selatan alami baik social, ekonomi dan Budaya karena kegiatan yang hanya berlangsung sekitar 10 hari ini 11-21 nopember 2011. Omong Kosong apa yang dikatakan pemerintah Pusat maupun daerah Sumatera selatan atau kota Palembang jika SEA GAMES dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan Rakyat di Sumatera Selatan. Ini Buktinya ¿?
Hei tapi tunggu dulu, sebelum aku menuliskan beberapa Bukti tentang Kerugian dan tragedi tragedi yang kami, masyarakat Sumsel alami menjelang SEA GAMES ini mohon kiranya saat membaca nya nanti kalian dapat mengunakan seluruh kemampuan otak kanan, kiri, depan belakang kalian ya…ya ya..biar masuk akal bukan penjara, berikut beberapa catatan ku :
  1. Hilangnya Ruang Terbuka Hijau publik dan Lahan rawa yang mencapai ratusan Hektar karena dibangun dan dialih fungsi menjadi kawasan Private seperti Hotel, cafe, mall dan venues. Masalah ini sudah aku tuliskan disini 1319605539832215350

  2. Kelangkaan Air bersih yang dialami 17.000 KK lebih di Palembang karena air nya dialihkan untuk memenuhi kebutuhan venues SEA GAMES seperti Kolam renang, danau, dan wisma atlet dll,

  3. Byar Pet listrik yang satu harinya bisa mencapai 10 Kali, karena banyaknya daya yang digunakan untuk memasang serta menerangi Venues Venues SEA GAMES yang baru di buat maupun telah jadi. Hal ini merugikan industri rumah tangga dan masyarakat sumsel secara keseluruhan ditambah dengan tidak adanya Kompensasi yang diberikan oleh PLN atas pemadaman tersebut dan malah naasnya menurut keterangan masayarakat mereka harus membayar rekening lebih mahal dari biasanya karena kejutan kejutan yang dibuat oleh Byar pet tersebut membuat meteran pengukuran daya berjalan dengan Sangat cepatnya.

  4. Puluhan Kilometer Trotoar yang merupakan Hak hak Masyarakat Palembang khususnya Pejalan kaki dirampas. Di jadikan jalan milik kendaraan Bermotor karena pelebaran jalan yang dilakukan Pemerintah kota katanya untuk mengurangi kemacetan. Tapi kenyataannya kemacetan jalan semakin menjadi jadi karena memang menurut para ahli Transportasi dari negeri manapun diatas BUMI ini, serta yang sering di kemukakan oleh WALHI Sumsel bahwa Solusi untuk mengurangi kemacetan jalan bukanlah dengan melebarkan jalan tetapi membatasi kepemilikan kendaraan bermotor dan hal ini bermanfaat juga untuk menciptakan udara bersih di Kota Palembang. Dan pastinya menjaga masyarakat dari serangan penyakit yang diakibatkan oleh buruknya koalitas udara kota Palembang seperti yang terjadi dibulan lalu ada sekitar 7.000 jiwa penduduk Palembang terserang penyakit ISPA.

  5. Penggusuran rumah dan tempat pekerja non formal semakin sering terjadi terkhsus peristiwa yang terjadi kemarin, Puluhan rumah dan Lapak PKL yang berada di 8 Ulu dan di sepanjang jalan A Bastari Jakabaring di Gusur karena SEA GAMES. Kota ini tidak boleh tanpa kumuh dan kotor.

  6. Rencana Pembantaian terhadap ribuan anjing liar yang akan dilakukan pada hari Sabtu (29/10) besok, yang akan dilakukan oleh Pemerintah Sumsel melalui Dinas Peternakan, dengan alasan untuk mengamankan SEA GAMES agar para tamu yang (katanya) akan datang tidak ada yang di gigit anjing.  . Rencana ini mendapat tentangan keras dari banyak Pihak baik nasional maupun tingkat local salah satunya Walhi Sumsel yang menyatakan bahwa rencana pembantaian itu hanya akan menimbulkan masalah baru dan akan semakin meningkatkan populasi anjing anjing tersebut di kemudian hari. Dan seharusnya yang dilakukan pemerintah ádalah dengan melakukan penegakan aturan Undang-Undang No 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan kesehatan hewan. Bukan melakukan Tindakan Praktis dengan cara membantai karena kalo membantai kami masyarakatpun bisa. Dan kalopun mau bantai membantai saran aku “bantai” aja tuh mafia mirip anjing bukan anjing asli hehe

  7. Rencana Pembagian Kondom sebanyak 57.600 kondom secara gratis melalui 200 outlet selama berlangsungnya SEA Games XXVI. kepada Masyarakat atau Para Tamu Sea Games. Katanya agar dapat mencegah menyebarnya penyakit kelamin.hahaha …. Keliatan kali otak dan pikiran Pemerintah baik Pusat Propinsi dan Kota ini mesum dan kotor, dan malah aku berpikir bisa jadi ini berangkat dari pengalaman mereka (pejabat ) selama ini ketika berkunjung atau menjadi tamu di negara luar.
7 Hal (Kerugian dan Tragedi) diatas inilah yang sempat aku catat dalam beberapa waktu menjelang SEA GAMES ini, dan aku yakin bahwa masih banyak lagi yang lainnya yang tidak bisa aku temui atau terlupa aku rekam.. dan untuk itu Ana mohon maaf pada ente sekalian…hehe
Tet tet tet tot tot … suara yang keluar dari HP ku menyadarkan aku untuk berhenti berpikir, menulis cerita hari ini. Ini juga membuat aku mulai merasakan bahwa cacing dalam perutku berdendang, wajar saja karena ketika aku lihat jam di dinding ruang tamu jarumnya sudah menunjukan ke angka 5 Sore. dan sejak pagi sampai sore ini tidak ada segumpal makanan pun masuk kedalam perut.. untuk memberikan hak kepada perutku maka cerita ini aku cukupkan sampai disini saja. (titik) 

Tulisan ini aku Posting juga di kompasiana

Jumat, 23 September 2011

Media Massa Tak Memihak Massa

Sebuah Kasus Televisi Swasta di Venezuela


Tapi yang terpenting jangan diracuni.
Jangan mau diracuni oleh kebohongan mereka.
(Hugo Chavez)

The Revolution Will Not Be Televised (selanjutnya disingkat The Revolution) adalah sebuah saksi nyata bahwa stasiun televisi selalu terlibat dalam kepentingan-kepentingan tertentu. Televisi–sebagai media massa yang digambarkan dalam film ini–menggelitik kita untuk mempertanyakan kembali sejauh mana kata “massa” diwakilkan oleh media massa.

Berawal dari keinginan untuk mendokumentasikan kehidupan pribadi Hugo Chavez, proses produksi The Revolution bisa dibilang kebetulan. Ketika pembuat film ini berada di Karakas (ibu kota Venezuela) untuk mendokumentasikan Chavez, yang  disuguhkan malah peristiwa kudeta 11 April 2002. Peristiwa inilah yang akhirnya didokumentasikan. Realitas di lapangan dan pemberitaan televisi-televisi swasta Venezuela yang menyimpang dari realitaslah yang disuguhkan dalam film dokumenter ini.

Film dibuka dengan gambaran rakyat Venezuela yang begitu mendukung Hugo Chavez, dipadukan dengan beberapa cuplikan siaran televisi swasta Venezuela dan mancanegara, yang mengabarkan kegagalan Chavez dan betapa menderitanya rakyat Venezuela di bawah pemerintahannya. Sejak awal, The Revolution sudah menggambarkan sesuatu yang paradoks dan bertolak belakang.

Chavez adalah pemimpin Venezuela yang dipandang kontroversial. Ia menang pada pemilu demokratis pada 1998 (didukung oleh 50% lebih suara). Mayoritas pendukungnya adalah rakyat miskin yang juga merupakan mayoritas penduduk Venezuela. Setelah menang, ia mengubah banyak kebijakan di negeri itu. Salah satunya adalah pendistribusian secara merata hasil minyak negara untuk seluruh lapisan masyarakat. Hal ini berbeda dengan sebelumnya,  yang mana hasil minyak hanya dikuasai dan dinikmati oleh segelintir orang saja.

The Revolution dengan detil merekam keseharian masyarakat kecil Venezuela: rumah-rumah mereka, kegiatan, juga kesaksian mereka tentang pemerintahan Chavez. Tapi, bukan ini cerita utama yang hendak disampaikan The Revolution. Pun sebagaimana perlakuan Chavez terhadap rakyat miskin Venezuela yang disandingkan dengan kebencian kelas menengah-atas Venezuela terhadap kebijakan Chavez juga hanya sekadar latar belakang. Namun pertentangan ini semakin nyata terasa oleh pertarungan di televisi.

Saat itu ada lima stasiun televisi swasta yang dikuasai oleh beberapa kubu ekonomi terkuat di Venezuela. Sedangkan televisi publik hanya satu. Dan melalui satu-satunya stasiun televisi inilah, Chavez mengadakan perang media dengan televisi-televisi swasta. Alih-alih mengabarkan kunjungan-kunjungan Chavez dan betapa gegap gempitanya sambutan rakyat atasnya—sebagaimana yang mengisi narasi awal The Revolution—televisi-televisi swasta justru mengangkat isu penyimpangan seksual Chavez, kedekatannya dengan Kuba, dan juga dukungannya atas terorisme. Sebaliknya, pada televisi publik, Channel 8, sikap Chavez adalah menentang terorisme, tetapi tidak merestui tindakan pembasmian terorisme yang sampai memakan korban anak-anak dan masyarakat sipil yang tak bersalah di Afghanistan.

Pemerintahan Chavez mengerti betul fungsi televisi sebagai sarana masyarakat mengakses informasi tentang negara. Setiap minggu, ada acara televisi bertajuk Aló Presidente. Tujuannya agar masyarakat bisa langsung berbicara dengan Chavez melalui telepon yang disiarkan secara langsung. Dalam salah satu episode yang direkam The Revolution, misalnya, Chavez berbicara dan mencatat secara langsung keluhan Lucretia, salah seorang penelepon,  tentang permasalahan tanahnya. Selain itu, Chavez pun menekankan pada bawahannya untuk selalu menyiarkan pekerjaan-pekerjaan pemerintah melalui radio maupun televisi-televisi lokal, untuk melawan pemberitaan televisi swasta yang selalu menyudutkan pemerintah.

Perang di media semakin menguat di awal 2002. Pihak oposisi yang didukung oleh kekuatan-kekuatan ekonomi semakin sengit melancarkan serangan terhadap Chavez melalui siaran televisi-televisi swasta. Pada 10 April, mereka menyiarkan peringatan dari salah satu jenderal oposisi Chavez atas kemungkinan adanya kudeta. Mereka menyerukan demonstrasi besar-besaran untuk menentang Chavez. Para pemirsa televisi swasta yang kebanyakan dari pihak kelas menengah dan atas kota (kebanyakan dari mereka, berdasarkan keterangan The Revolution, adalah pihak yang mendapatkan keuntungan dari hasil minyak negara pada pemerintahan sebelumnya) yang mendukung oposisi pun menyambut baik. Pada 11 April, demonstrasi itu terjadi.

Di istana, ribuan pendukung Chavez berkumpul untuk menyatakan solidaritasnya pada pemerintah. Demonstran oposisi dibelokkan rute demonstrasinya dari yang semula ke perusahaan minyak negara menuju istana presiden. Bentrokan antara pendukung pemerintah dan oposisi hampir terjadi. Salah seorang pendukung Chavez menyatakan bahwa media berada di balik perang kotor ini.

Pukul dua siang kedua kelompok sudah berhadap-hadapan tapi masih bisa dihalangi tentara. The Revolution mengisahkan, ketika mereka kembali ke kerumunan pendukung Chavez, dimulailah tembakan dari sniper terhadap para pendukung Chavez. Pada titik ini, The Revolution mulai masuk pada sebuah fakta yang sungguh mengenaskan.

Sebanyak 25% masyarakat di Venezuela memiliki pistol. Para pendukung Chavez mulai balas menembak ke arah datangnya tembakan. Kesaksian dan analisis Andres Izarra, kepala pemberitaan sebuah televisi swasta Venezuela, patut disimak baik-baik. Menurutnya, sebuah stasiun televisi swasta menempatkan kameranya di belakang istana dan mengambil gambar orang-orang yang menembak dari atas jembatan. Pemberitaan itu lantas menuduh pendukung Chavez yang dengan brutal menembaki para oposisi yang berdemonstrasi dengan damai. Padahal, menurut Izarra, sudah sangat jelas bahwa kelompok pendukung Chavez tengah tiarap, namun situasi tersebut tak pernah ditayangkan oleh televisi swasta. Gambar itu dimanipulasi sedemikian rupa sehingga terlihat seakan Chavez dan pendukungnyalah yang bertanggungjawab atas penembakan-penembakan yang terjadi. Kenyataannya, mereka ditembaki terlebih dahulu dan membalas dalam rangka perlindungan diri. Kesalahan rekayasa ini sedemikian fatal, karena, jalan di bawah jembatan yang dimaksud, pada hari itu, tak pernah dilewati oleh demonstran oposisi.

Dalam keadaan rusuh, televisi swasta terus menayangkan pemberitaan-pemberitaannya dan seruan agar Chavez mundur. Informasi makin kacau balau ketika saluran Channel 8 dikuasai kaum oposisi. Pada pukul 21.20, para menteri mencoba bersiaran langsung dari istana melalui televisi publik tersebut. Pukul 21.30 gelombangnya diputus. Penasehat politik dalam pemerintahan Chavez menyatakan bahwa kaum oposisi terlalu kuat dan pemerintahan Chavez tak punya kesempatan untuk melawan media. Chavez lantas menyerahkan diri pada dini hari (12 April) agar istana tak dibom.

Pagi harinya, Venezuela sudah punya presiden baru dan sejak itu sensor diterapkan. Tak boleh ada pemberitaan tentang para pendukung Chavez. Itulah yang menyebabkan Andres Izarra mengundurkan diri dari posisinya di salah satu televisi swasta karena tak sesuai dengan prinsip jurnalistik yang dipegangnya.

Memang pada akirnya kaum oposisi tidak mampu mempertahankan kudeta mereka dalam waktu yang lama. Chavez kembali ke istana pada 14 April dini hari. Rakyat pendukung Chavez beserta jajaran militer yang memihak rakyat berhasil mengembalikan keadaan. Itu juga berkat bantuan dari jaringan televisi internasional yang bersiaran melalui saluran televisi kabel di Venezuela. Chavez sendiri tidak lantas membredel televisi-televisi swasta. Hanya satu televisi swasta, RCTV, yang dicabut izin siarnya karena terbukti terlibat dalam kudeta (Ariane dalam Bonnie Triyana dan Max Lane [eds], 2008).

Namun demikian, pelajaran dari peristiwa di Kuba yang direkam dalam The Revolution setidaknya membuka mata kita dan mengingatkan kembali bahwa media massa, dalam kasus ini televisi, sungguh adalah senjata yang ampuh untuk mempengaruhi politik atau pun dimensi-dimensi penting lainnya dalam kehidupan. Ketika media massa memihak pada sebuah kepentingan saja, maka sangat mungkin kepentingan masyarakat banyak dikesampingkan oleh kepentingan yang bermain di baliknya. Dalam kasus Venezuela, di tengah kekuatan yang tak seberapa hebat dalam melawan televisi swasta, ucapan Chavez setelah ia kembali ke istana pada dini hari 14 April 2002, yang dikutip di awal tulisan ini, merupakan cara yang efektif untuk melawan media massa yang tak memihak pada massa: “Jangan mau diracuni oleh kebohongan mereka.”

Ditulis oleh ;
Berto Tukan– September 19, 2011
 
Sumber Tulisan :http://remotivi.or.id


Rabu, 03 Agustus 2011

Pemprov akan pungut biaya bagi pengunjung Danau OPI.

- Ruang Publik Kembali di Privatisasi
Danau OPI jakabaring (sumber;sripoku.com)
 
Palembang(3/8),Untuk mensukseskan pelaksanaan SEA GAMES ke 16 yang jatuh pada 11 nopember, Pemprov Sumatera selatan mengeluarkan kebijakan melakukan privatisasi terhadap kawasan Publik yang selama ini dapat digunakan dan diakses masyarakat secara gratis, berupa Ruang Publik Danau OPI (Ogan Permai Indah) yang lokasinya berada di tengah Komplek perumahan eks penampungan Atlit Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 di Jakabaring.

Rencana ini terungkap (2/8) oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Sumsel HM Jhonson. ” Danau OPI akan dijadikan Lokasi wisata yang di kemas secara menarik, dengan tarif masuk yang terjangkau oleh semua pihak dan ini sudah di sepakati oleh pimpinan (gubernur.red)”. Ungkapnya. Selain itu Jhonson pun menambahkan bahwa pembangunan Lokasi wisata ini untuk mendukung ditetapkan kawasan jakabaring sebagai Jakabaring Sport City (JBC).

Rencana Pemerintah ini pun mendapatkan tanggapan dari salah satu Organisasi Lingkungan Hidup yang ada di sumatera Selatan,WALHI Sumsel. Melalui Kadiv Pengembangan Organisasi dan Pengorganiasian Rakyat (PPER) Hadi Jatmiko yang di wawancarai Via facebooknya selasa malam(2/8) mengatakan, seharusnya yang dilakukan pemerintah bukanlah memprivatisasi tetapi hanya sebatas mempercantik dan menata karena menurutnya kawasan tersebut merupakan satu satunya tempat hiburan dan wisata masyarakat Sumsel, khususnya Palembang yang dapat diakses(masuk,red) secara gratis tanpa Bayar.

” Masalah Alih fungsi dan privatisasi RTH dan cagar budaya dijadikan PSCC, Undermall dan heritage aja belum selesai, malah mau buat masalah baru, yang itu jelas akan merugikan masyarakat” kata Hadi. Selain itu diapun menambahkan ”Pemprov ini anti sekali terhadap bangkitnya ekonomi Kerakyatan, sehingga tidak bisa melihat ruang publik milik rakyat kecil dan langsung akan mengambil alih dan memprivatisasinya dengan mengatasnamakan demi SEA Games”.

Sependapat dengan apa yang di ungkapkan oleh WALHI sumsel, Dodi Penolosa merupakan mahasiswa semester akhir salah satu universitas swasta yang ada di Sebereang Ulu saat ditemui di Danau OPI mengatakan, Tidak setuju dengan rencana pemprov yang ingin memprivatisasi kawasan tersebut, menurut dia jika ini dilakukan artinya hanya akan menjadikan kawasan ini dimiliki dan dinikmati orang orang kelas menengah keatas saja  sedangkan kami mahasiswa yang punya uang pas pasan tidak akan bisa menikmatinya.

” Ruang publik ini terbentuk dengan sendirinya oleh masyarakat tanpa ada campur tangan pemerintah, jadi jangan setelah ini terbentuk. pemerintah seenaknya mengambil alih dan men swastanisasi kannya” kata Losa yang merupakan panggilan akrabnya. (w01)

BBM nazarudin Kembali Buat Ulah

Belum selelai kasus suap yang melibatkan dirinya sebagai tersangka karena menerima uang suap atas pembangunan wisma atlit sebesar 13 Persen dari jumlah total biaya proyek sebesar 191 Milyar, serta bersama rekannya Rosalina yang merupakan salah satu pejabat teras di Perusahaan Pemenang dari proyek wisma Atlit tersebut merancang dan membagi-bagi uang “terima Kasih” kepada beberapa Pejabat di Daerah Seperti Gubernur Sumsel, dan Panitia lainnya masing masing sebesar 2.5 Persen dari total nilai Proyek.

Kini Mantan Bendahara Demokrat ini kembali membuat ulah yang tak tanggung lagi bukan hanya urusan Proyek di Dunia seperti pembangunan Infrastruktur atau bangunan ,tetapi Proyek yang hubungan dengan Agama pun juga “di mainkannya”, yaitu tentang penetapan awal Bulan ramadhan 1432 H.

Hal ini diketahui dan terungkap setelah Pesan Blackberry Message (BBM) yang menggunakan layanan TELKOMSEL dari M. Nazarudin, yang ditujukan kepada salah seorang penerima Uang suap yang berinisial NYS, yang merupakan warga Negara Indonesia asli bukan keturunan dari Luar negeri,tersebut Bocor dan tersebar ke beberapa Grup yang ada di BB.

Berikut Pesan BBM yang bocor dan tersebar tersebut :
M – Transfer BERHASIL
M- Banking BCA 30/07/2011 09:20:38
No urut 0834
RP. 4.000.000.000,-
Berita : Uang 2.5 persen fee atas di Goal kanya awal ramadhan tepat 1 agustus 2011.
by M. Nazarudin